Minggu, 26 Oktober 2014

MEMANJAT KEHIDUPAN


MEMANJAT KEHIDUPAN
Masa tua sewajarnya dihabiskan dengan berada di rumah, menghabiskan waktu bersama keluarga. Melihat cucu di rumah, menyiram tanaman, atau menikmati masa pensiun dengan mendengarkan musik-musik lawas. Betapa Indahnya hidup ketika tua, menghabiskan waktu bersama keluarga secara utuh. Tetapi itu semua mungkin klise dan hanya ada dalam angan-angan saja, karena ini jelas tidak berlaku bagi Marndinah, atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Dabuk, diusianya yang menginjak 67 tahun, ia tetap aktif menekuni profesinya sebagai seorang Pemanjat Panggilan. Pekerjaan Mbah Dabuk adalah menjual jasa ‘memanjat’, ia memanjat pohon apa saja sesuai pesanan orang yang memanggilnya, tetapi pohon-pohon yang biasa ia panjat adalah pohon kelapa, pohon asam dan pohon melinjo.
Mbah Dabuk pun bergantung pada banyak atau tidaknya hasil buah pada si pohon yang ia panjat itu. Sistem pembayaran yang dilakukan pun variatif, terkadang Mbah Dabuk menerima uang atas jasanya memanjat dan memetik, terkadang bagi hasil atau kedua-duanya. Dalam 1 minggu Mbah Dabuk bisa memanjat 4-5 kali, dan dalam 1 minggu itu bisa 6-8 pohon yang ia panjat, tergantung sedang ramainya permintaan. Ada hari-hari dimana ia tidak memanjat yaitu hari apapun dengan pasaran Jawa Pahing dan Wage, ketika mungkin Mbah Dabuk pernah lupa maka akan ada hal buruk yang terjadi, seperti misalnya terjatuh dari pohon dan sebagainya.
Tinggal di rumah petak seukuran lebih kurang 6x4 meter. Beberapa bulan yang lalu ayahnya yang sudah tua sempat tinggal dirumahya, tetapi kini ayahnya tersebut sudah kembali ke keluarganya yang baru, hanya selama sakit saja ia tinggal menumpang di rumah Mbah Dabuk. Sekarang ia tinggal sendiri, anak Mbah Dabuk hanya 1 perempuan, tetapi anaknya tersebut juga jarang mengunjunginya. Mbah Dabuk dikenal sebagai orang yang rajin dan ngeyel (baca:keras kepala), bahakan jika tidak ada orderan memanjat, ia akan berkeliling dari 1 kebun ke ke kebun lainnya untuk melihat apakah ada pohon yang berbuah lebat yang bisa ia petik, tentunya melalui penawaran kepada si pemilik pohon tersebut.
Beberapa kali terjatuh dari Pohon ternyata tidak membuat Mbah Dabuk mendapatkan efek Jera, beberapa tetangga juga memberitahu untuk berhenti memanjat. Tetapi memang benar kata pepatah Jawa “Watuk diombeni obat Mari, nanging Watak iku angel”(Batuk diberi obat akan sembuh, tetapi Sifat sulit diubah). Ia semakin rajin bekerja, jika pagi memanjat maka siang dan sorenya ia gunakan untuk mencari buah gayam yang kadang ia konsumsi sendiri atau ia jual kembali ke pasar. Uang dari hasil memanjat pun diputar lagi oleh Mbah Dabuk untuk membeli Bambu yang nantinya akan dianyamnya menjadi Besek, dan keranjang Buah lalu ia jual lagi. Ia tidak pernah berhenti bekerja, semakin tua ia semakin produktif. Harusnya anak-anak muda yang masih sehat memiliki Tekad dan Kemauan seperti Mbah Dabuk, tidak menyerah dalam keterbatasannya sebagi seorang wanita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar