Jumat, 10 Februari 2017

Berani Menerima Tantangan dan Membuka Diri

Buku Remaja Itu Berani berisi kisah-kisah nyata remaja inspiratif yang mampu menumbuhkan keberanian pada diri sendiri. Keberanian dalam hal apapun salah satunya adalah keberanian dalam mengambil keputusan. Kisah nyata yang ada dalam buku ini mengajak pembaca khususnya kaum remaja untuk berani. Berani menerima kenyataan, berani mengambil sikap dan membuat pilihan. Masa remaja masih erat dengan persoalan yang berkaitan dengan kerelasian. Relasi dengan guru, orang tua, pelajaran, kegagalan, keberhasilan, sekolah dan rasa bimbang ketika harus mulai memilih masuk ke perguruan tinggi.

Banyak tantangan ketika masa remaja, tantangan datang dari luar maupun tantangan yang datang dari dalam diri sendiri. Tantangan yang datang dari luar bisa jadi merupakan sesuatu hal yang tidak kita sadari tapi terkadang justru disadari oleh orang lain yang ada di sekitar kita.Tantangan dari dalam diri sendiri pada umumnya karena pikiran-pikiran remaja itu sendiri. Memang pada kenyataannya tantangan tidak selalu mudah, bahkan ada orang yang mengatakan “mengapa hidup tidak dipermudah saja, tanpa tantangan, hidup akan berjalan dengan mulus, maka hidup menjadi nyaman” tetapi tidak sedikit orang yang berpikir positif dalam menghadapi suatu tantangan dan mengganggap bahwa jika tidak ada tantangan maka hidup terasa datar.

Seperti kisah yang dialami oleh seorang remaja bernama Dwi. Menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, sekolah Dwi mengadakan lomba antar kelas yang salah satunya adalah lomba lukis. Dwi tiba-tiba ditunjuk oleh ketua kelas bernama Dhyana, padahal ia merasa tidak mampu. Dwi tidak menyadari kelebihan yang ada pada dirinya, ia tidak sadar bahwa nilai gambarnya paling tinggi di kelas. Dwi akhirnya menyanggupi mandat dari Dhyana setelah mendapatkan asupan semangat dari Tuti yang ternyata juga mendapatkan mandat untuk mengikuti perlombaan merangkai bunga. Tantangan Dhyana untuknya mengikuti perlombaan melukis membuatnya sadar  dan belajar bertanggung jawab. Dwi merasa nervous saat perlombaan berlangsung, namun ia berhasil melaluinya dengan baik dan mendadak mendapatkan ide. Ide yang mendadak itu justru membuat Dwi membuat kelasnya meraih juara 2 dalam lomba melukis. (halaman 58)

Tantangan memang menakutkan pada awalnya, tetapi ketika telah melalui tantangan tersebut, kita justru dapat menemukan diri kita dan talenta yang kita miliki. Seperti yang dialami Dwi yang kemudian menemukan talentanya setelah mendadak mengikuti lomba lukis di sekolahnya. Dwi kemudian mendapat kepercayaan berikutnya untuk membuat ilustrasi buku dan majalah. Tantangan ternyata membuat Dwi belajar untuk bertanggung jawab, karena di dalam tantangan menempel pula amanat, kepercayaan dan tanggung jawab. Tanggung jawab untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Di bagian berani menerima tantangan, pembaca akan diajak merenungkan tantangan yang dialami dalam hidup sehari-hari berikut konsekuensinya. Karena menjalani tantangan tidak boleh dengan sesuka hati tetapi harus dijalani dengan serius dan usaha sekuat tenaga.

Tantangan dalam pergaulan juga memiliki masalahnya sendiri.  Pergaulan yang bersifat tertutup bisa menyebabkan seseorang sulit beradaptasi dengan lingkungannya. Ada orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, merupakan hal yang sulit bagi orang tersebut untuk bersikap lebih terbuka.  Berada di lingkungan baru adalah hal yang mengkhawatirkan, tidak aman dan tidak nyaman. Inilah yang juga dirasakan oleh seorang remaja bernama Heni, Heni sejak TK hingga SMP selalu bersekolah di sekolah yang sebagian besar anak-anak Tionghoa. Ketika masuk SMA Heni dan teman-temannya yang sesama tionghoa mendapat teguran dari guru kelasnya Bapak Charles. Bapak Charles yang membuat mereka harus bergabung dengan semua teman-teman sekelas. 

Heni awalnya merasa takut harus keluar dari zona nyaman, namun akhirnya setelah mencoba, ia ternyata bisa bergabung dengan teman-teman sekelasnya yang berasal dari berbagai belahan Indonesia. Pengalaman berani membaur dan terbuka yang awalnya merupakan paksaan dari gurunya, membawa dampak besar pada hidup Heni. (halaman 47)

Apa yang dipikirkan Dwi dan Heni pada awalnya mungkin sama dengan yang dipikirkan oleh remaja sekarang. Takut memulai hal yang baru dan takut keluar dari zona nyaman. Jangan biarkan masa remajamu menjadi biasa saja tanpa gebrakan dan perubahan dari dalam diri. Masa remaja adalah masa yang seharusnya berani untuk merasakan dunia yang begitu luas dengan cara mengeksplorasi bakat dan kemampuan diri sendiri. Berani mengambil keputusan dan menghadapi konsekuensinya.

Dimuat di Koran Jakarta 12 Januari 2017
http://www.koran-jakarta.com/berani-menerima-tantangan-dan-membuka-diri/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar