Makvee Story

Travel Enthusiast, Hotel Reviewer, and Food Lovers

  • Home
  • Travel
  • Kuliner
  • Hotel
  • Lifestyle
  • Contact Us
Mangkok Bathok

Jelajah Bantul seharian full, asyik sekaleeeeee, Hallo, teman-teman Makvee, semoga kalian dalam keadaan sehat ya. Makvee baru saja seharian full dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB menyempatkan waktu ditemani oleh kawan-kawan dari Dinas Pariwisata Bantul dan para Travel Blogger dan Influencer berkeliling ke tempat-tempat wisata yang 2 diantaranya dekat dengan rumah Makvee. Di postingan sebelumnya Makvee bercerita tentang Desa Wisata Krebet dan menikmati opening acara di Desa Wisata Krebet. 

Baca Juga Jelajah Bantul Desa Wisata Krebet

Desa berikutnya yang Makvee kunjungi adalah Desa Wisata Santan yang berlimpah Ingkung. Ya benar Makvee akhirnya sampai ke Kampung Bathok berada di Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Makvee pernah melihat dan hanya lewat di sekitaran Desa Wisata Santan. Warga sekitar lebih familiar dengan Kampung Bathok Santan, tetapi baru sekali ini Makvee berkunjung. Desa Wisata Santan memiliki produk unggulan berupa kerajinan dari bathok atau tempurung kelapa. Selain itu kulinernya yang terkenal adalah Ingkung Ayam Kampung yang gurihnya sampai ubun-ubun.


Lokasi Desa Wisata Santan
Desa Wisata Santan ini tepatnya terletak di sebelah selatan Goa Selarong. Berada di jalur wisata sebenarnya Desa Wisata Santan ada di wilayah yang strategis wisata karena cukup dekat dengan Cagar Alam Gunung Gamping atau bekas Keraton Ambarketawang (Gamping, Sleman). Jalur yang dilewati dapat melalui Goa Selarong – Desa Wisata Santan- Pasar Pijenan (Pasar Sentra Batik Khas Bantul). Bila meneruskan perjalanan, dari Desa Wisata Santan ke selatan, maka melewati daerah yang disebut dengan Kalakijo, Guwosari, Pajangan ada beragam kuliner disana yang jelas ingkung adalah salah satu makanan yang mudah ditemukan, kemudian jalan terus ke selatan akan sampai ke Pasar Pijenan. Terus ke arah selatan maka akan sampai ke Desa Wisata Lopati (Srandakan, Bantul), kemudian setelah bertemu Jembatan Srandakan bila terus melaju ke selatan, maka akan sampai Pantai Patehan, Pantai Kuwaru, Pantai Goa Cemara dan Pantai Baru. 

Desa Wisata Santan a.k.a Kampung Bathok Santan merupakan salah satu desa wisata yang ada di Desa Guwosari, kecamatan Pajangan, kabupaten Bantul. Desa wisata yang diresmikan pada tahun 2011 ini merupakan eksportir semua kerajinan berbahan dasar kelapa. Produk terbesar yang dihasilkan adalah bathok kelapa dan menjadi eksportir terbesar di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ada berbagai macam kerajinan dari Kelapa, mulai dari lampu, tas, mangkok, gelas, dan sumpit. Bathok kelapa yang awalnya berserabut, dipoles, diproses, dan dihaluskan sedemikian rupa menjadi barang kerajinan yang nilainya tinggi. Makvee pun berkesempatan untuk melihat prosesnya secara langsung.

Mulai dari dikupas, dibentuk, hingga dihaluskan.






Tapi sebagian besar yang Makvee lihat adalah peralatan makan seperti piring, mangkok, gelas, mangkok, sendok, garpu dan sumpit, walaupun memang ada hiasan, pajangan-pajangan cantik seperti lampu dan celengan tapi jumlahnya tidak sebanyak perlatan makan yang diproduksi

Sekilas Sejarah Desa Wisata Santan
Kerajinan bathok kelapa di Desa Wisata Santan sudah ada sejak tahun 1991. 

Awalnya kerajinan bathok kelapa hanya dilakukan oleh 1 keluarga turun temurun. Kemudian, lama-kelamaan berkembang dan menjadi usaha yang meluas ke hampir setiap rumah di Desa Wisata Santan. 

Hal yang unik adalah setiap kepala keluarga yang menjalankan bisnis ini memiliki produk yang berbeda antara satu dengan yang lain. Selain kerajinan bathok kelapa, satu hal yang tidak boleh terlewatkan saat berkunjung kesini adalah kuliner ingkung yang menggoyang lidah. 





Makvee pun berkesempatan membawa pulang bathok kelapa sebagai gift dan icip-icip ingkung beserta sego gurih (nasi uduk) yang gurihnya tidak nanggung. Yummmmy.

Jadi, kapan kamu berkunjung ke Desa Wisata Santan. Stay Happy dan Stay Healthy ya. Cheerssss.


Jelajah Bantul seharian full, asyik sekaleeeeee, Hallo, teman-teman Makvee, semoga kalian dalam keadaan sehat ya. Makvee baru saja seharian full dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB menyempatkan waktu ditemani oleh kawan-kawan dari Dinas Pariwisata Bantul dan para Travel Blogger dan Influencer berkeliling ke tempat-tempat wisata yang 2 diantaranya dekat dengan rumah Makvee. 

Tapi, malunya adalah walau dekat dengan rumah tapi baru pertama kalinya Makvee berkunjung. Sungguh warga Bantul yang durhaka kebanyakan eksplore luar kota yang dekat malah belum dikunjungi.

Desa Wisata Krebet 

Desa Wisata Krebet adalah sentra industri batik kayu yang mempunyai potensi kepariwisataan baik dari sisi budaya maupun potensi alam. Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan Krebet sebagai Desa Wisata.

Sumber https://www.krebet.com/

Telah memiliki Website https://www.krebet.com/ tercatat bahwa Desa Wisata Krebet melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi bersama Kementrian Perindustrian Republik Indonesia telah memfasilitasi Pengembangan Klaster Batik Kayu Krebet. Fasilitasi pelatihan dan alat, serta pameran telah diberikan demi berkembangnya batik kayu di Krebet.

Pada saat ini di Sentra Industri Kecil Menengah Krebet telah berdiri Koperasi Sidokaton yang beranggotakan 57 Anggota. Sebagai bagian dari penduduk Bantul Makvee tahu bahwa Pembinaan generasi pengerajin batik kayu Krebet dapat berjalan baik. Ini membuat anak-anak kampung sekitar Krebet menjadi produktif dan kreatif sehingga tidak mengalami apa yang disebut dengan "gabut" atau mager. Jika banyak warga yang menggerakkan batik kayu krebet maka akan lebih banyak yang mengenal dan menikmatinya sebagai sebuah hasil kerajinan asli Bantul yang memiliki nilai seni tinggi dan patut untuk dikoleksi dan dibanggakan

Sejarah Kerajinan Batik Kayu di Desa Wisata Krebet

Sebelum disebut sebagai Desa Wisata. Krebet adalah wilayah dengan keadaan geografis yang berupa perbukitan berkapur. Warganya hidup dari sektor pertanian. Pada tahun 1970-an sebagian kecil masyarakat dusun krebet mencari pekerjaan lain selain bertani, salah satunya adalah membuat kerajinan berbahan baku kayu seperti irus, siwur, beruk dan pisau. Kerajinan tersebut tidak bisa disebut sebagai pekerjaan utama, saat itu hanya digunakan untuk tambahan memenuhi kebutuhan hidup warga Dusun Krebet. Kerajinan kayu tersebut kemudian dikenal oleh desa-desa sekitar dan semakin menambah penghasilan disela-sela bertani. 

Namun karena bentuk kerajinan kayu dan proses pembuatan yang sederhana membuat kerajinan kayu tersebut belum mempunyai daya jual yang tinggi. Meskipun sederhana, kerajinan kayu adalah kerajinan pertama yang ada di Dusun Krebet.

Baca Juga Jelajah Bantul bersama Dinas Pariwisata Bantul

Bapak Gunjiar merupakan pengembang konsep kerajinan kayu yang paling dasar, sekita tahun 1972-an Bapak Gunjiar menggembangkan bentuk-bentuk lain yang lebih membutuhkan detail tinggi, salah satunya membuat patung semar. Pada saat pameran, banyak pengunjung yang menyukai kerajinan hasil karya Bapak Gunjiar yang inovatif, mengingat beliau belajar ukir secara otodidak. 

Hingga suatu saat ada seseorang datang dan memesan sebuah topeng, hal tersebut membuat Bapak Gunjiar merasa tertantang dan memutuskan untuk nyantrik/magang ditempat Pak Warno Waskito seorang pengrajin topeng yang sudah terkenal dalam dunia seni pertunjukan, khususnya kesenian yang menggunakan topeng di Yogyakarta, dan akhirnya topeng pesanan dapat ia selesaikan dengan baik.

Pengrajin lain dan juga asli warga dusun krebet adalah Bapak Kemiskidi, ia adalah pengerajin sekaligus pemilik sanggar Peni. Kemiskidi menimba ilmu membuat topeng kayu melalui Bapak Warno Waskito lalu menggembangkan kerajinan topeng dan memasarkannya sendiri. Dari hasil penjualan kerajinan buatannya ia dapat melanjutkan pendidikan ke-tingkat SMA. Kemiskidi pun mampu bertahan dan mengembangkan usahanya dan sanggar Peni yang mampu menyerap 50 tenaga pengrajin hingga saat ini.

Kak Prima Bersama Para Wayang

Ada pula Bapak Anton Wahono, seorang pengrajin asli dari Dusun Krebet, ia pemilik sanggar Punokawan yang dahulu merupakan pengrajin wayang kulit. Berbekal kemampuan menyungging, ia membuka usaha produksi wayang kulit. Pada tahun 1988 pemerintah mempunyai kebijakan baru bahwa kulit mentah dapat diekspor, sehingga kulit didalam negeri semakin sulit didapat dan mahal. Sulitnya mendapatkan bahan kulit dengan kualitas bagus mempengaruhi harga jual kerajinan wayangnya. Anton Wahono mengganti usahanya dengan memproduksi wayang klithik yang terbuat dari kayu. Kesuksesan mengelola hasil produksinya, Anton Wahono berhasil dalam meraih gelar sarjana pada Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Widya Mataram Yogyakarta.

Eh simbahnya lewat heheheh

 Baca Juga Review Cottage : Kampoeng Media Penginapan Asri di Jogja

Sekitar tahun 1980-1985, kerajinan belum begitu diminati oleh masyarakat Krebet sebagai mata pencaharian utama. Sanggar-sanggar yang ada saat itu masih sedikit. Seiring perjalanan waktu permintaan pasar kerajinan dari kayu mulai meningkat, barulah kemudian sedikit demi sedikit ada warga yang mulai bekerja sebagai buruh pengrajin di dua sanggar ini yaitu sanggar Peni dan sanggar Punokawan.

Selain sebagai tempat pembukaan Jelajah Bantul,


Makvee Bersama teman-teman Blogger dan Influencer berkesempatan untuk melihat langsung workshop proses pembuatan segala macam kerajinan.


Acara formal dimulai, Makvee fokus pada makanan yang berada dalam wadah besek,

Sekotak kebahagiaan dalam kesederhanaan

ada bacem tempe benguk, telo godog, dan kacang godog, 

serta wedang legen, berasa minum alkohol versi kearifan lokal. Tapi tenang ini tidak beralkohol hihihi hanya baunya saja menyerupai.

Mulai dari batik kayu, patung, hingga wayang. Semuanya dalam 1 tempat di Desa Wisata Krebet. 

Makvee tertarik dengan batik kayu, yang ternyata lilinnya yang mirip dengan gula batu itu ketika dipanaskan agar mencair dibuat lebih encer. 


Berbeda dengan ketika membatik di atas kain, lelehan lilin lebih padat karena dibiarkan meresap di kain. Menurut ibu pembatik yang saya tanyai, beliau belajar membatik di atas kayu hingga lancar efektif belajar 1 bulan baru bisa.

 
 
Makvee lalu berkunjung ke bagian pengalusan kayu dan pencelupan kayu agar warnanya lebih kuat.
 

Ada pula gudang penyimpanan ukiran kayu dan topeng setengah jadi.



Makvee juga sempat melihat Bapak yang sedang menatah kayu agar menjadi kayu yang unik dan bentuk yang populer.

Proses pengecatan kursi batik custom.


Makvee kemudian melagkah ke depan, ke hasil jadi di showroomnya yang berisi banyak sekali kerajinan yang cantik, seperti topeng batik, sepatu batik, wayang, dan lain-lain.


Bisa dibilang jika berkunjung ke Desa Wisata Krebet banyak hal-hal edukatif yang didapat apalagi 1 tempat bisa digunakan untuk belajar mulai dari proses bahan mentah, barang diolah, packing, hingga siap dijual karena tersedia ruang pamer yang memadai. 



Bahkan pengunjung pun dapat pulang membawa barang hasil kerajinan sebagai kenang-kenang-an atau oleh-oleh.

Sebelum masa pandemi COVID-19 Outbreak Desa Wisata Krebet menerima kunjungan berturut-turut dari tanggal 11-13 Februari 2020, salah satu yang berkunjung adalah dari SMA Santo Michael Kota Cimahi sebanyal 101 Siswa dan 6 Guru Pendamping. 

 

Masih di bulan yang sama Desa Wisata Krebet mendapatkan kunjungan dari SMK N 3 Tasikmalaya.

Kemarin ketika Makvee kesana kunjungan menurun drastis, Makvee berharap pandemi segera berakhir agar pariwisata kembali hidup dan semarak. Stay Happy, Yuk Jelajah Bantul dan berkunjung ke Desa Wisata Krebet.

Akhir-akhir ini Makvee sedang baper dengan drama bertema start-up. Siapa yang sudah nonton? Cunggg. Asli sih Makvee merasa drama yang Makvee tonton ini menambah pengetahuan baru soal dunia start-up. Berbicara tentang start-up di Indonesia ternyata pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika melaksanakan program Dayamaya. Program Dayamaya https://dayamaya.id/ mengajak para pelaku Startup e-Commerce, Komunitas, Kelompok masyarakat dan UMKM digital bersinergi mengembangkan potensi serta membuat solusi tepat guna bagi masyarakat di daerah 3T. 

Apa itu daerah 3T?

Jadi Daerah 3T adalah daerah yang terdepan, terluar, dan tertinggal (3T)

Tujuan dari Program Dayamaya ini tentu saja mengembangkan potensi ekonomi digital di Daerah 3T. Niat baik pemerintah ini perlu kita dukung.

Danny Januar Ismawan, Direktur Layanan TI untuk Masyarakat dan Pemerintah mengatakan bahwa

“Melalui peran startup, komunitas, dan UMKM yang terlibat, kami harapkan dapat mempercepat kemajuan di daerah 3T. Saat ini sudah ada lima inisiatif, dari 18 yang terpilih pada tahun 2019, yang mulai berproses di masyarakat. Kami yakin dengan peran serta mereka, akan segera terjadi perubahan di daerah 3T menuju ke arah yang lebih baik” 

Ada 3 nama perusahaan yang berkesempatan memberikan kontribusi kepada masyarakat yaitu Atourin, Cakap, dan Jahitin. 3 Perusahaan ini terpilih dari 18 perusahaan yang berinisiatif untuk bergabung dalam kegiatan Dayamaya.

Profil 3 Perusahaan Terpilih

Atourin adalah perusahaan teknologi di sektor pariwisata yang menyediakan jasa danlayanan baik secara online maupun offline untuk industri pariwisata Indonesia, pada tahun 2019 berkesempatan menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi pemandu wisata di Natuna melalui program Dayamaya.

Reza Permadi selaku Tim Operasional Atourin, menjelaskan bahwa pada tahun 2019 terdapat 10 pemandu wisata di Natuna sudah memiliki lisensi, lebih berani melakukan self branding, dan mulai memanfaatkan media sosial untuk melakukan promosi. Harapannya akan ada lebih banyak lagi pemandu wisata yang berlisensi.

Reza juga menambahkan kondisi selama pandemi ini dan hal yang telah dilakukan oleh Atourin

“Di masa pandemi ini, salah satu satu program kami yaitu melakukan pelatihan secara daring bagi pemandu wisata se-Indonesia. Kami ajarkan bagaimana cara membuat tur virtual. Salah satu sektor yang paling terdampak akibat pandemi adalah pariwisata. Dengan pelatihan ini, diharapkan pemandu wisata dapat memanfaatkan internet untuk menghadirkan layanan virtual tour baik kepada wisatawan dalam negeri maupun mancanegara” 

Reza juga mengatakan bahwa tur virtual ini merupakan platform baru, yang dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu panjang, tidak hanya di masa pandemi saja.

Kemudian ada Cakap (https://cakap.com/) sebagai platform online pembelajaran bahasa asing mendukung pengembangan daerah wisata dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dari sisi penguasaan bahasa, utamanya bahasa Inggris. Kontribusi Cakap pada tahun 2019 melalui program Dayamaya adalah dengan menyelenggarakan digital assessment di Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggunakan standarisasi CEFR (The Common European Framework of Reference for Languages). Program melibatkan peserta setingkat pelajar SMA sebanyak 250 orang, kegiatan ini dilakukan secara daring melalui ruang belajar digital dalam sebuah kelas online yang diisi oleh guru bahasa Inggris asing (ESL Teacher).

Menurut Tommy Yunus selaku CEO Cakap, kemampuan berbahasa Inggris sangat penting dalam usaha mengembangkan daerah wisata, karena menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah wisatawan dalam menciptakan pariwisata berkelanjutan.

“Di masa pandemi ini kami menggelar program pelatihan secara daring bagi penggiat dan pelaku pariwisata yang tentu saja difasilitasi oleh BAKTI, Kementerian Pariwisata dan pemerintah daerah. Cakap selaku mitra platform pembelajaran memberikan kesempatan kepada masyarakat pelaku industri pariwisata untuk belajar bahasa Inggris secara gratis. Untuk menjadi peserta dapat mendaftar dengan mengakses website resmi Cakap. Sejauh ini sudah ada beberapa daerah yang mendaftar yaitu Kalimantan Selatan, Maluku Utara,Sulawesi Utara dan Bangka Belitung. Sulawesi Utara dan Kalimantan Selatan sebagai daerah terbanyak yang mendaftar menjadi peserta” kata Tommy.

Peserta yang mengikuti pelatihan nantinya akan mendapatkan akses kelas webinar, materi pembelajaran dalam bentuk e-book, akses video pembelajaran, kuis untuk evaluasi dan mengukur kemampuan bahasa Inggris selama program, pendampingan oleh guru profesional dan lokal fasilitator, serta mendapatkan sertifikat penyelesaian di akhir program. Cakap meningkatkan kemampuan SDM dari sisi bahasa. 

Ada Jahitin Academy memberdayakan SDM dengan meningkatkan skill para penjahit di Provinsi NTT, khususnya di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Melalui workshop pengolahan limbah kain tenun, Jahitin mengajarkan bagaimana cara mengolah limbah tenun menjadi produk yang bernilai jual, seperti untuk membuat cushion pillow.

Tidak hanya itu, Jahitin juga membantu para penjahit agar dapat lebih mudah mengakses pasar. Dampaknya saat ini penjahit di Sumba sudah mendapatkan akses langsung berhubungan dengan Dinas Perdagangan.

“Di masa pandemi kami melakukan pelatihan kepada para penjahit, bagaimana cara membuat masker sesuai dengan standar kesehatan yang difasilitasi oleh BAKTI dan Kementerian Desa, dan Pemberdayaan Daerah Tertinggal. Hasilnya, para penjahit di Sumba berhasil mendapatkan orderan membuat 5000 masker” kata Asri Wijayanti.

Ari Soegeng Wahyuniarti, selaku Kepala Divisi Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Masyarakat juga mengatakan bahwa dengan merangkul stakeholder strategis, "kami yakin kita akan memiliki daya atau berdaya untuk bersama-sama membawa perubahan di daerah 3T. Utamanya perbaikan dari sisi perekonomian berbasis ekonomi digital. Hal ini selarasa dengan semangat untuk Berdaya Bersama."

Sepemikiran, Makvee juga merasa bahwa sebagai sebuah bangsa, Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman, dalam membangun daerah 3T pemerintah tentu tidak dapat bekerja sendiri. Maka dari itu inilah, peran dari para startup dan komunitas sangat diperlukan untuk bersama-sama bersinergi mempercepat pembangunan di daerah 3T. Salam sinergi untuk Indonesia.



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

A Travel Enthusiast, Hotel Reviewer, and Food Lovers. Terima kasih sudah berkunjung ke dunia kecil Makvee.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • OldTown White Coffee Menu di Jogja Simanjuntak Bikin Pengen Semua
  • Review Azalea Hijab Shampoo Terbaik untuk Rambutmu
  • Insto Dry Eyes Solusi untuk Mata Kering
  • Review Jujur Staycation di The Alana Malioboro Hotel
  • Sehat dan Bersih Saat Menstruasi Bersama Betadine Feminine Hygiene
  • Hangatkan Tubuh dan Hati dengan Sari Jahe
  • Menikmati Suasana Pedesaan di Disawa Pawon
  • Review Jujur Le Mindoni Cafe
  • Jambon Resto :Merayakan 14 Tahun Kebersamaan
  • Review YATS Colony Jogja

Categories

Travel Kuliner hotel Travelling hotel review Hotel Jogja

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Mei 2026 (1)
  • Maret 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • Oktober 2025 (1)
  • Agustus 2025 (8)
  • Juli 2025 (1)
  • Juni 2025 (1)
  • Mei 2025 (5)
  • April 2025 (3)
  • Maret 2025 (13)
  • Mei 2024 (2)
  • April 2024 (1)
  • Maret 2024 (2)
  • Januari 2024 (1)
  • November 2023 (1)
  • Oktober 2023 (1)
  • September 2023 (2)
  • Mei 2023 (2)
  • April 2023 (1)
  • Maret 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Agustus 2022 (2)
  • Juni 2022 (2)
  • April 2022 (31)
  • Maret 2022 (5)
  • Februari 2022 (2)
  • Desember 2021 (1)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (3)
  • April 2021 (2)
  • Maret 2021 (2)
  • Februari 2021 (4)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (8)
  • November 2020 (3)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Februari 2020 (7)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (2)
  • November 2019 (3)
  • Oktober 2019 (2)
  • Agustus 2019 (4)
  • Juli 2019 (5)
  • Juni 2019 (10)
  • Mei 2019 (27)
  • April 2019 (5)
  • Maret 2019 (2)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • Desember 2018 (5)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (2)
  • September 2018 (2)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juni 2018 (2)
  • November 2017 (1)
  • Mei 2017 (1)
  • Februari 2017 (2)
  • September 2016 (1)
  • Februari 2016 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (2)
  • Mei 2015 (4)
  • November 2014 (1)
  • Oktober 2014 (1)

Komunitas Blogger Jogja

Komunitas Blogger Jogja

BLogger Perempuan Network

BLogger Perempuan Network

Komunitas Emak Blogger

Komunitas Emak Blogger

Popular

  • Review Jujur Sate Ratu (Sate Kanak dan Sate Merah)
    Yummmmy Senja menyapa perutpun berbunyi, tanda tubuh bahwa saatnya makan. Teringat sate favorit yang berada di area Jogja Paradise. Cu...
  • Review Jujur Le Mindoni Cafe
    Hi Nongkrongers? Apa kabar? Aku harap kalian baik dan sehat ya. Sebagai high quality single, Makvee pasti sangat selow dan woles ka...

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template