Misteri Puri Artha Hotel Yogyakarta

Tepat 1 Mei 2021 bisa dibilang aku mendapatkan prank beruntun, rasanya nano nano, deg-deg an, takut bahkan masih kebayang sampai sekarang. Ini Makvee nulisnya malem-malem sambil merinding-merinding sedap nih karena bakalan kebayang lagi kejadiannya. 

Sabtu, 1 Mei 2021, aku ada acara buka bersama di Satoria Hotel Yogyakarta yang lokasinya berada di Ring Road Utara Yogyakarta. Aku bersama Mbak Iffa, siangnya Mbak Iffa WA dunk bilang, dengan percakapan kira-kira sebagai berikut 

Mbak Iffa : Habis bukber staycation aja, besok pagi aku rapid juga soalnya
Aku : Iya ya
Mbak Iffa : Gimana oke gak, kalau oke aku booking sekarang
Aku: Oke mbak, aku balik dulu ya ambil baju laptop sama kamera, habis itu jemput kamu ke kos
Mbak Iffa: Iya aku booking lewat Agoda
Aku : Hotel mana mbak? 
Mbak Iffa : Puri Artha Hotel
Aku: Oke mbak nanti kalau otw kukabarin lagi

Singkat cerita, seperti setrikaan aku dari Jogja ke Bantul karena posisinya aku lagi di kantor dan belum bawa barang apapun. Bantul ke Palagan kost Mbak Iffa perjalanan lebih kurang 45 menit. 

Posisi saat itu sudah sore sekitar pukul 16.00 WIB. Puri Artha ini berada di tengah kota, di area Jalan Affandi masuk ke arah Jalan Demangan. 

Di jalur distro, dan bersebelahan dengan sekolah Olifan. Motor diparkir di sebelah timur hotel. 
Aku sih sudah membatin dalam hati kok sepi ya, padahal kata Mbak Iffa mau booking di Traveloka penuh maka Mbak Iffa booking via Agoda. 


Kami berdua disambut oleh Bapak-bapak dengan logat bukan Logat Jawa, tanpa pengukuran suhu, di depan hotel juga tidak disediakan fasilitas cuci tangan. 



Hanya ada 1 handsanitizer semprot yang wadahnya sudah kusam dan jaraknya lebih kepada digunakan oleh reseptionis dibanding untuk tamu.

Kami mendapatkan kamar cukup di ujung dan di dalam. 
Di depan reseptionis ada ruang tunggu yang cukup besar dengan kursi-kursi kayu, lampu kristal, ada lukisan, patung budha tidur menyamping dan ada piano. 

Karena, lampunya tak dinyalakan semua jadi rasanya gelap dan seram. Mungkin kalau lampu menyala terang akan kelihatan indah dan elegant. 
Next, aku dan Mbak Iffa menuju kamar 225 sesuai kunci berbentuk wayang yang kugenggam. 
Kami diantar oleh petugas lain yang lebih muda berkaos merah maroon. Sambil membatin "cukup good looking juga masnya ini"
Berbarengan dengan kami check in ada 2 mas-mas yang juga check in. Tapi seluruhnya itu kamar-kamar sepi. 
Aku dan Mbak Iffa dapat kamar di utara ruang House Keeping hampir di pojokan dunk. Sebelah barat kamar yang kami tempati kamar 226 dibatasi oleh ornamen wayang yang aku tak mengerti itu wayang apa. 
Kami pun masuk ke dalam kamar yang cukup luas. 

Puri Artha hotel ini kategori hotel bintang 3. Menurutku sih untuk bintang 3 fasilitasnya oke karena ada kulkas dan pemanas air. 

Nah, aku sudah masuk nih ke kamarnya bersama Mbak Iffa, semua berjalan normal aku foto-foto kamar dan toilet ya reguler seperti biasanya kalau mau nyetok materi buat blog. 

Aku mandi dan bersiap, pas mandi aku melihat ada vas di pojokan dan bunganya udah layu di sampingnya ada toiletress, hmmm something fishy tapi ga terlalu aku pikirin juga. dan entah kenapa sengaja gak aku foto juga, kayak males aja juga, menyentuhnya pun tidak, you know ketika kamu feeling ga enak sama satu benda kalau aku memilih untuk tidak berurusan sama sekali.

Mandi mandi ajalah pokoknya. Seperti inilah toiletnya yang cukup nyaman, yang menganggu pikiran hanyalah bunga layu, duh orang overthinking kaya aku emang susah yaaa.

Kemudian aku dandan dan gantian mbak Iffa mandi. Setelah Mbak Iffa selesai bersiap kamipun keluar kamar menuju ke parkiran dan itu suasananya sepi banget dan mas-mas yang check in bareng kami itu lagi pada rokok-an di luar kamar. 

Tapi tak ada suara apapun selain obrolan kami berdua yang berjalan. Bar dan restaurant lampunya gelap dimatikan, lewat ruang tunggu depan lobby juga hanya 1 lampu yang menyala. Parkirannya pun cukup gelap saat itu tapi terbantu karena ada lampu di sekitaran. 

Aku dan Mbak Iffa menikmati buka puasa di Satoria Hotel hingga hampir pukul 20.30 WIB lalu perjalanan kembali ke Puri Artha dengan kondisi yang sama masih sepi. Masuk kamar dan kami masing-masing ganti baju lalu rebahan. Pas lagi sama-sama rebahan di atas lemari terdengar suara gluduk gluduk gluduk.

Mbak iffa nyeletuk "tikus paling" akupun mengamini iya tikus paling, tapi jujur perasaanku ga enak tapi segera aku alihkan dengan scrolling instagram, nyemil, nonton tv. Mbak Iffa pun sibuk nonton drama korea, aku sedang tak punya hasrat menonton pun memilih tidur tapi mendengar bunyi gluduk-gluduk tapi di kamar sebelah. Setelah berdoa sebelum tidur aku masuk ke dalam selimut, meringkuk, dan tidur. 

Syukurlah, aku tidur cukup nyenyak sampe pukul 03.00 dini hari, ada suara bel berbunyi bersamaan dengan suara "Room Service". Seorang mas-mas di luar pintu kamar datang membawakan sahur ternyata. Aku membukakan pintu antara sadar dan tidak sadar, masnya masuk dan menaruhnya di meja depan tivi. Kemudian keluar tapi meninggalkan bau wangi yang semerbak. Aku inget betul bau wangi masnya itu, "ahh mungkin parfum baru pikirku" 

Aku membangunkan mbak Iffa "Sahur mbak sahuuuurrr". Mbak Iffa bangun lalu makan sahurnya, dan aku tidur lagi, hingga tersadar sekitar pukul 06.00 WIB mendengar suara Mbak Iffa packing tasnya. Oh iya astaga Mbak Iffa ada rapid berangkat pagi, aku bangun belum cuci muka, membawa kamera, memakai masker, lalu mengantarnya ke depan naik ojol. Suasana lagi-lagi sangat hening, belum ada siapapun di lobby. 

Menunggu 10 menitan di loby Mbak Iffa dijemput oleh ojol, akupun memutuskan untuk melihat kolam renangnya untuk mengambil foto dan beginilah kondisi kolam renangnya. 



Sayang sekali kolam renang yang bagus tidak dibarengi dengan perawatan yang baik, apalagi air kolamnya sampe berwarna hijau membuat suasana yang sudah sepi semakin mencekam. 


Aku hanya menemui seekor kucing dan burung-burung lewat meminum air kolamnya. 

Nuansanya Bali sekali sungguh bagus jika dibersihkan dan dirawat dengan baik.





Sebenarnya, jujur aku enggan kembali ke kamar, di jalan menuju ke kamar aku WA sepupuku Novi untuk menemaniku sampai jam check out. Bisa sih check out pagi itu tapi hasrat pengen mager-mageran dulu tapi takut tapi ah gimana campur aduk perasaannya kalau tak ada temannya. Kemudian, aku memutuskan menjemput Novi ke rumahnya. Lalu, balik lagi ke Puri Artha lagi dan lagi masih sepi, tapi ada 2 petugas hotel perempuan yang baru datang cukup ramah sepertinya anak magang. Aku dan Novi masuk kamar rebahan sebentar lalu kami pergi sarapan makan soto, jam masih pagi kala itu masih pukul 07.38 WIB. Sekitar 08.30 WIB kami kembali ke hotel dan reseptionisnya sudah ganti bukan 2 mbak-mbak berbaju putih macam anak magang yang tadi pagi tapi mbak-mbak dengan rambut digerai. Again Reseptionis di Puri Artha ini memang tak menggunakan tanda pengenal di dada, jadi akupun tak tahu namanya. 


Masuk kamar lagi, masih dengan suasana yang sepi hening, bahkan tak melihat mas-mas yang kemarin check in. Aku dan Novi segera masuk kamar, nonton tv sambil tik tokan dan eksplore filter instagram. Drama dimulai, saat Novi bertanya "lhoh mbak kok ruangan ini connecting room" Sampai pada detik itu Novi bertanya tentang connecting room I was like "kok aku ga sadar ya itu connecting room"
Aku menuju ke dekat pintu connecting room, tapi perasaan ga enak dan auto teriak dan balik ke kasur, kemudian chat mbak iffa. Setelah itu kedengeran bunyi gludak guluduk sama  persis bunyinya kayak semalam, 2 kali bunyinya. Bunyi yang pertama gludak gluduk, bunyi kedua bug bug macam ada orang menabrakkan diri ke pintu. Panik ga sehhhh panik ga sehhhh ya PANIK lah!!!

Astaga lalu aku WA Mbak Iffa terkait connecting room yang aku baru sadar setelah Novi kasih tahu.
Begini bunyi chat kami yang membahas-bahas ketakutan....


Kami hanya meringkuk di kasur sambil aku berkomunikasi dengan Mbak Iffa dan berusaha sesantai mungkin. Emang harusnya pas kondisi diserang gitu emang jangan panik sih. Tapi gimana aku manusia biasa, mau berusaha ga panik juga ga bisa. Suasana agak tenang, Novi nanya soal Wifi yang semenjak aku datang ga pakai wifi sama sekali. Jreng jreng pas mau nelpon reseptionis dunk itu telpon tidak ada bunyi tersambung sama sekali. Tidak ada kabel yang tersambung, What, makin panik tapi balik rebahan lagi. Sampai aku dan Novi mendengar suara cwo nyanyi di kamar mandi. 

Menurutku itu bunyinya dari lantai atas, dan Novi dengernya di kamar mandi sebelah. Sementara aku mengintip keluar jendela tidak ada langkah kaki sama sekali petugas HK yang membersihkan kamar atau petugas HK yang naik turun bener-bener sepi. Asli itu makin panik sih. Nyanyi beneran suara laki-laki nyanyi tapi aku sama Novi juga gatau itu lagu apa yang dinyanyiin lebih kayak nyanyi sambil menggumam. Panik dunk, mana aku belum mandi. Aku kuat-kuatin deh mandi sambil dengerin itu suara nyanyian yang muncul kemudian hilang dan muncul lagi. 

Biasanya kalau staycation aku selalu menikmati mandiku, lama bener-bener dinikmati mandinya, tapi kali itu mandi sambil tegang bahkan pintunya juga ga ditutup. Habis mandi aku segera berbenah packing dan siap-siap. Sementara Novi mandi, masih ditemani suara nyanyian yang muncul dan hilang. Selesai packing masih ada makanan yang belum dihabiskan, kami makan dulu di depan TV sampai tiba-tiba lampu depan TV mati padahal saklarnya ada di samping tempat tidur. Aku auto check saklar yang emang posisinya off. Berarti di detik itu entah energi apa yang bisa mencet saklar sampe off. Aku pernah ingat nonton tayangan Risa Saraswati dan baca-baca artikel katanya energi mereka makin besar kalau manusia takut. Memencet saklar butuh energi yang besar lho. Oke tanpa pikir panjang kami check out saat itu juga, tapi tetap berterima kasih sebelum pergi.Aku bilang dalam hati "maaf kalau kami ada salah, terima kasih ya" aku matiin AC, lampu, dan keluar lalu kunci pintu. Sampe siang aku lagi-lagi tak melihat mas-mas yang check in bareng aku dan Mbak Iffa, aku sempet menatap kamarnya dan sepi-sepi tak ada suara apapun. 

Kesan mengenai Puri Artha Hotel
1. Protokol kesehatannya menurut saya kurang, karena tidak tersedianya handsanitizer di lobby, alat pengukur suhu tubuh.

2. Telpon yang tidak bisa digunakan dan tidak tersambung. Sehingga reseptionis ternyata tidak bisa menghubungi kamar kami, dan malah mengontak ke Mbak Iffa yang booking kamar. Herannya kok reseptionis tidak meminta petugas untuk datang ke kamar kami.

3. Menakutkan ada staff laki-laki yang pas kami lewat wajahnya tidak ramah, asli sih itu berasa lagi di film-film horor. Kalau suasana sudah sepi alangkah baiknya petuga juga ramah.

4. Jika kamar benar-benar sepi dan tak ada pengunjung mengapa petugas HK tidak mentreatment kamar dengan membuka kamar agar ada sinar matahari masuk, sehingga tak ada kesan horor. Apalagi di kamar kami juga bunga sampai layu dan tissue toilet juga sisa entah kapan tinggal 2 lembar sehingga harus minta lagi saat itu.

5. Sebenarnya aku cukup heran hotelnya ini cukup hening, aku merasa hotel ini berada di tengah kota tapi tak mendengar suara motor, benar-benar hening. Nyaman untuk tidur, tapi jadi horor kalau minim pencahayaan dan hal-hal yang tak keliatan tidak di treatment dengan baik apalagi hotel ini nuansanya Bali banget. 

Penilaian Jujur dari Aku
✅Kenyamanan 8
✅Kebersihan 7
✅Pelayanan 7
✅Protokol Kesehatan 6
✅Lokasi 8


Mengapa kenyamanan dan lokasinya 8 karena sebenarnya lokasinya ini strategis, bahkan dalam kamar tuh tenang banget, hotel yang dekat sama jalan dan motor mobil lalu lalalng entah kenapa di dalam kamar tidak terdengar sama sekali. Benar-benar setenang itu, aku ga habis pikir sih. So, ya buat kalian yang mau liburan rame-rame ini aku rekomendasikan. Tapi kalau yang cuma berdua doang hmmmm kayak aku dan temenku apalagi akunya penakut mending cari hotel yang lebih ramai.

Sekian, cerita dan pengalaman yang aku alami selama menginap di Puri Artha Hotel, apa kalian ada yang pernah mengalami kejadian yang sama? Apakah kalian pernah menginap di hotel ini? boleh share di kolom komentar ya good people. Stay happy, stay healthy, staycation. Cheeerssss

Puri Artha Hotel Yogyakarta
Jl. Cenderawasih No.36, Demangan Baru, Demangan, 
Kec. Gondokusuman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

1 komentar

  1. Hotelnya betul-betul sepi ya dan remang-remang. Kalian berdua pemberani ha, ha..

    Duh, kolamnya sampai ijo gitu ya. Memang gak difungsikan atau tidak terawat karena penghematan ya?

    BalasHapus