Makvee Story

Travel Enthusiast, Hotel Reviewer, and Food Lovers

  • Home
  • Travel
  • Kuliner
  • Hotel
  • Lifestyle
  • Contact Us

Ada satu hal yang mulai saya sadari setelah semakin sering mencoba tempat makan dengan konsep modern, western, atau semi kekinian: orang Indonesia sebenarnya susah diajak sepenuhnya pindah haluan dari nasi.

Kita bisa saja makan steak. Bisa juga makan pasta. Sesekali brunch ala café dengan croissant dan scrambled egg. Tapi setelah tiga atau empat jam, biasanya muncul pertanyaan yang sama:

“Jadi… habis ini makan apa lagi?”

Yang dicari sebenarnya bukan makan lagi. Yang dicari nasi.

Mungkin itu juga yang diam-diam dipahami oleh Kementerian Sego's Bebek ketika mereka membuat menu bernama Chicknas Tel singkatan dari Chicken Nasi Telur. Nama yang terdengar seperti hasil brainstorming lima menit menjelang deadline, tapi justru karena itu terasa akrab. Tidak dibuat terlalu keren. Tidak sok Inggris. Tidak memaksa terdengar premium.

Langsung to the point.

Ayam. Nasi. Telur.

Tiga hal yang kalau disatukan hampir mustahil gagal.

Saya datang ke tempat ini sebenarnya tanpa ekspektasi terlalu tinggi. Niat awalnya sederhana: family time sambil cari makan yang aman buat semua lidah. 

Sebab mencari tempat makan untuk keluarga itu kadang lebih rumit daripada menentukan arah hubungan. 

Ada yang maunya pedas, ada yang tidak bisa makan terlalu berminyak, ada yang sukanya western, ada yang kalau belum ketemu sambal rasanya hidup kurang lengkap.

Dan anehnya, tempat-tempat seperti inilah yang biasanya jadi penyelamat.

Tempat yang Tidak Berusaha Terlihat “Jakarta”

Hal pertama yang saya suka dari Kementerian Sego's Bebek adalah mereka tidak terlalu sibuk berusaha terlihat metropolitan.

Belakangan banyak tempat makan berlomba-lomba menjadi “Instagramable” sampai lupa fungsi utama rumah makan: bikin orang kenyang dan nyaman. Lampunya dibuat remang-remang seperti tempat kontemplasi. Musiknya terlalu keras. Kursinya cantik tapi membuat tulang punggung mempertanyakan keputusan hidup.

Di sini suasananya lebih membumi.

Ramai, santai, dan terasa seperti tempat yang memang dibuat untuk makan. Bukan untuk pura-pura kerja sambil buka laptop selama lima jam dengan satu gelas americano.

Lokasinya ada di Jalan Terusan Timor Raya, samping Bio Meubel. Cukup mudah ditemukan dan ternyata memang ramai. Dari luar sudah kelihatan kalau tempat ini bukan tipe rumah makan yang mengandalkan gimmick semata.

Orang datang ke sini memang untuk makan.

Dan menurut saya itu pertanda baik.

Chicknas Tel dan Filosofi Orang Indonesia Tentang “Makan Lengkap”


Ketika menu Chicknas Tel datang, saya langsung paham kenapa menu ini cukup sering disebut-sebut.

Hot plate-nya masih mendesis. Aromanya langsung naik sebelum makanan benar-benar mendarat di meja. Ada sensasi kecil yang sebenarnya sederhana, tapi selalu berhasil memancing rasa lapar: suara makanan panas.

Manusia Indonesia punya hubungan emosional dengan makanan panas. Semakin bunyi “cesss”nya terdengar, semakin muncul keyakinan bahwa hidup mungkin masih bisa diperbaiki.

Isi menu ini sebenarnya tidak rumit:

  • ayam,

  • nasi,

  • telur,

  • kentang goreng,

  • dan sedikit sayur.

Tapi justru di situlah letak kekuatannya.

Kementerian Sego's Bebek mengerti bahwa sebagian besar orang Indonesia tidak mencari makanan yang terlalu eksperimental. Kita hanya ingin makan enak, porsinya masuk akal, dan setelah selesai tidak merasa ditipu ukuran piring.

Saya memilih versi grilled chicken, dan juga crispy. Ayamnya cukup juicy dengan rasa gurih yang aman buat banyak lidah. Tidak terlalu asin, tidak terlalu banyak drama bumbu yang berusaha terasa “authentic Korean” atau “American style” padahal ujung-ujungnya bikin haus setengah mati.

Rasanya familiar.

Dan kadang itu lebih penting daripada inovasi berlebihan.

Telurnya membantu menyatukan semuanya. Ketika kuning telur mulai bercampur dengan nasi panas dan saus ayam, ada momen kecil yang membuat orang otomatis diam beberapa detik. Fokus makan. Tidak buka HP. Tidak ngobrol.

Mungkin itu definisi kebahagiaan versi sederhana.

Kentang Goreng dan Krisis Identitas Menu Modern

Yang menarik, menu seperti Chicknas Tel sebenarnya mencerminkan cara makan generasi sekarang.

Ia ingin terlihat modern, makanya ada hot plate dan french fries.

Tapi ia juga sadar identitas utama tetap tidak bisa lepas dari nasi.

Jadilah sebuah kompromi budaya:
western sedikit, Indonesia bangettt.

Dan jujur saja, yang begini ini justru paling sering berhasil.

Karena pada akhirnya banyak orang Indonesia tidak benar-benar mencari pengalaman kuliner yang terlalu asing. Kita cuma ingin makan yang terasa akrab, tapi tetap punya sedikit sensasi “WOAHHH ENAK KENYANG”.

Hot plate memberikan ilusi fancy itu.

Padahal kalau dipikir-pikir, inti kebahagiaannya tetap berasal dari nasi hangat dan lauk gurih.

Harga 40 Ribuan dan Definisi “Worth It” yang Sebenarnya

Ada masa ketika orang datang ke restoran bukan cuma untuk makan, tapi juga membieli suasana. Akibatnya harga makanan sering terasa seperti biaya sewa kursi plus pendingin ruangan.

Makanya sekarang menemukan makanan 40 ribuan yang porsinya benar-benar bikin kenyang terasa agak melegakan.

Chicknas Tel dibanderol sekitar Rp40 ribuan per porsi. Dan untuk ukuran harga makan sekarang, menurut saya ini masih masuk kategori wajar. Bahkan cenderung worth it.

Karena ada perbedaan besar antara makanan mahal dan makanan yang terasa mahal.

Menu ini tidak berusaha terlihat terlalu eksklusif. Tapi porsinya masuk. Komponennya lengkap. Dan yang paling penting: selesai makan masih terasa puas.

Bukan lapar emosional. Sampe mabok kkwkww

KuaKui dan Pentingnya Minuman Setelah Makanan Gurih

Setelah makanan datang dan rasa gurih mulai memenuhi mulut, saya mencoba minuman bernama KuaKui.

Nama yang terdengar seperti karakter sampingan di film kungfu, tapi ternyata justru jadi penyeimbang yang pas.

Rasa kelapanya segar dan tidak berlebihan. Ini penting, karena banyak minuman sekarang terlalu ambisius menjadi viral sampai lupa fungsi utama minuman: menghilangkan haus.

KuaKui tidak mencoba menjadi minuman paling estetik sedunia. Dia cuma segar. Dan kadang itu cukup.

Setelah beberapa suapan Chicknas Tel yang rich dan hangat, minuman ini membantu mulut “reset” lagi sebelum lanjut makan. Kombinasi yang sederhana tapi bekerja dengan baik.

Rumah Makan yang Mengerti Cara Orang Kupang Makan

Yang saya perhatikan, Kementerian Sego's Bebek tampaknya cukup paham bagaimana orang Kupang menikmati makanan.

Porsi penting. Rasa harus jelas. Tempat harus nyaman untuk datang ramai-ramai. Dan menu sebaiknya tidak terlalu ribet dijelaskan.

Karena itu tempat seperti ini lebih mudah diterima banyak orang dibanding restoran yang terlalu niche.

Di sini ada bebek bumbu hitam, ayam, nasi goreng, steak, dan berbagai menu lain yang spektrumnya cukup luas untuk menyelamatkan kebingungan satu keluarga besar.

Sebab dalam budaya makan keluarga Indonesia, memilih tempat makan sering kali bukan soal makanan enak. Tapi bagaimana tempat itu mengakomodasi menunyang simple mengenyangkan.

Pada Akhirnya, Kita Memang Hanya Ingin Makan Enak

Ada banyak restoran sekarang yang sibuk menjual konsep. Menjual ambience. Menjual pengalaman. Kadang sampai lupa rasa makanannya sendiri biasa saja.

Dan mungkin karena itu tempat seperti Kementerian Sego's Bebek terasa menyenangkan.

Ia tidak terlalu berisik ingin terlihat mewah.

Ia hanya menyediakan makanan yang hangat, mengenyangkan, dan cukup jujur dengan identitasnya sendiri. In this economy realitanya memang itu yang paling dicari orang setelah hari yang panjang. Bukan makanan yang revolusioner.

Cuma makanan yang ketika disantap membuat kita berhenti sebentar memikirkan hidup. Dan untuk beberapa menit, itu sudah lebih dari cukup.

FYI salah satu pemasak di Kementerian Sego's Bebek Kupang adalah salah satu peserta MasterChef season 13 Kak Soma

Kalau penasaran dengan menu atau informasi kemitraannya, bisa cek langsung di
website resmi Kementerian Sego's Bebek
atau WhatsApp 0877-6728-8227.



Kalau ngomongin bakso, jujur aja ya… sekarang tuh udah banyak banget inovasi yang kadang bikin kita mikir, “ini masih bakso atau udah berubah jadi eksperimen makanan?” Mulai dari bakso isi keju, bakso mercon, sampai yang isinya macam-macam. Tapi di sisi lain, gak semua inovasi itu berhasil. Banyak juga yang ujung-ujungnya cuma gimmick menarik di awal, tapi rasanya biasa aja.

Makanya waktu pertama kali dengar tentang Bakso Evadine cabang Penfui, terutama yang menu bakso sumsumnya, jujur aku agak skeptis. Bakso isi sumsum? Disedot? Kedengarannya agak… gimana ya. Antara penasaran dan sedikit ragu.

Tapi ya namanya juga penasaran, akhirnya aku cobain langsung.

Dan ternyata… ini salah satu pengalaman makan bakso yang cukup beda dari biasanya.
Lokasi dan Jam Buka:
Bakso Evadine cabang Penfui ini cukup gampang dijangkau, apalagi buat yang sering lalu-lalang di area Penfui. Tempatnya gak terlalu ribet dicari, dan cukup ramai juga, terutama di jam makan siang. Ada di bekas Rumah Makan Fardhan Kediri.

jam buka:
Senin – Sabtu: 08.00 – 21.00 WITA 
Minggu: 11.00 – 21.00 WITA 

Jadi kalau mau datang santai pagi atau makan malam juga masih aman.


Pilihan Menu: Banyak, Tapi Gak Bikin Bingung
Salah satu hal yang aku suka dari sini, pilihan menunya cukup banyak tapi masih “masuk akal”. Gak terlalu over sampai bikin bingung.
Beberapa menu yang sempat aku coba:
Bakso Original, Bakso Kuah Pedas, Bakso Berandal Original, Bakso Berandal kuah pedas, Bakso Keju Original, Bakso Keju Kuah Pedas
Bakso Sumsum, Bakso Telur Original, Bakso Telur Kuah Pedas, Bakso Urat Original, Bakso Urat Kuah Pedas, Bakso Teler, dan ada nasi juga, Nasi sambal korek

Baksonya start harga 15rb hingga yang paling mahal Rp25rb
Sementara nasi sambal koreknya harganya seporsi 35rb.

Minumannya juga simpel:
Es Nutrisari, Es Jeruk, Es teh

Harganya menurut Makvee masih tergolong ramah di kantong, mayoritas di kisaran belasan sampai dua puluhan ribu. Buat ukuran bakso yang ukurannya gak main-main, ini masih worth it. Tapi saran Makvee kalau di warung bakso begini tidak usah cari menu Nasi, karena biasanya menu nasinya pertama bukan jagoan di warung itu dan yang kedua harganya pasti lebih mahal dibanding kamu makan di warung yang memang khusus menu nasi rames


First Impression: Ini Bakso Kok Gede Banget?
Pas pesanan datang, hal pertama yang langsung kepikiran:
“Ini serius bakso atau bola?”


Ukuran baksonya gede banget. Bukan yang standar satu suapan langsung habis. Ini adalah bakso yang harus dipotong dulu, dinikmati pelan-pelan.

Secara tampilan, udah cukup menggoda. Apalagi kuahnya kelihatan bening tapi berminyak tipis tanda kalau kaldunya cukup kuat.

Dan di sinilah pengalaman mulai menarik.
Bakso Sumsum: Antara Ragu dan Ketagihan
Oke, kita bahas yang paling “kontroversial”: bakso sumsum.


Awalnya jujur aku agak ragu. Karena konsepnya adalah bakso yang ditaruh di dalam sebuah tulang sapi dan di dalam tulangnya masih ada sumsum di dalam bakso, dan cara makannya… disedot.

Pas baksonya dibelah, langsung keliatan isi uratnya cukup banyak. Bukan sekadar tempelan, tapi beneran jadi highlight dari bakso ini.

Dan momen paling krusial: pas dicoba.
Disedot.
Dan…
wow.
Rasanya tuh langsung keluar gurih, creamy, dan agak “rich” di mulut. Ada sensasi yang beda dari bakso biasa. Bukan cuma daging, tapi ada tekstur dan rasa tambahan dari sumsumnya.

Yang bikin menarik, walaupun awalnya terasa agak “aneh” di pikiran, tapi di lidah ternyata enak. Bahkan cenderung nagih.

Tapi ya jujur aja, ini adalah makanan yang gak semua orang langsung suka. Pasti ada yang mikir, “ini enak banget” atau justru “aduh agak eneg ya”.

Dan itu wajar.
Ranking Versi Makvee
Dari semua yang dicoba, ini versi ranking jujur dari Makvee:

1. Bakso Sumsum
Ini jelas jadi highlight. Bukan cuma karena unik, tapi rasanya juga beneran enak dan beda. Ini yang bikin Bakso Evadine punya identitas sendiri.

2. Bakso Keju & Bakso Berandal
Dua ini jadi favorit kedua. Isian padat, berasa dagingnya, dan gak pelit isi. Bakso kejunya juga gak cuma tempelan kejunya terasa dan cukup balance.

3. Menu lainnya
Seperti bakso urat, telur pedas, dan teler semuanya masih enak dan aman. Gak ada yang zonk, tapi memang gak se-“wow” bakso sumsumnya.

Kuahnya: Ini Kunci Utamanya
Kalau boleh jujur, yang bikin semua menu di sini naik level itu bukan cuma baksonya, tapi kuahnya.
Kuahnya itu tipe yang “ngaldu banget”. Gurihnya dapet, tapi gak lebay. Bukan yang cuma asin atau hambar.
Ini penting, karena bakso seenak apapun kalau kuahnya gak kuat, biasanya jadi kurang maksimal.
Di sini, kuahnya justru jadi pengikat semua rasa. Mau makan bakso sumsum, keju, atau urat, semuanya tetap enak karena ditopang kuah yang solid.
Minuman: Simpel Tapi Cukup
Untuk minuman, aku coba es Nutrisari dan es jeruk.
Gak ada yang spesial banget, tapi justru itu poinnya. Minuman yang simpel dan segar ini cocok banget buat “netralin” rasa kuah yang cukup kuat dan gurih.
Tapi justru yang kayak gini yang paling pas menurut Makvee. Simple tapi nyegerin.

Worth It atau Gimmick?
Ini pertanyaan penting.
Apakah bakso sumsum ini cuma gimmick?
Menurut Makvee: enggak.
Karena walaupun konsepnya unik dan sedikit “mengundang reaksi”, rasanya tetap deliver. Bukan cuma jualan sensasi, tapi memang enak.
Tapi tetap ya ini balik lagi ke selera masing-masing.
Ada yang bakal langsung jatuh cinta, ada juga yang mungkin merasa terlalu “rich”.

Kesimpulan: Harus Coba atau Skip?
Kalau kamu orang yang suka eksplor makanan, suka coba hal baru, dan gak masalah dengan tekstur yang beda, ini wajib banget dicoba.
Tapi kalau kamu adalah orang yang super basic dan gak suka yang “aneh-aneh”, mungkin bakal butuh penyesuaian.

Tapi satu hal yang pasti:
Bakso Evadine ini bukan bakso biasa.
Dan untuk pengalaman yang beda, ini worth it.

Karena jujur aja, Bakso model begini yang bakal selalu punya dua kubu.
Dan justru di situ serunya 😄 sampai jumpa di kulineran Makvee berikutnya
 
Link mapnya aku taruh disini ya Let's go
https://maps.app.goo.gl/qtHSNjSsGU3i5euV6



Di tengah kota Kupang yang sibuk dan cuaca yang kadang tidak bersahabat, ada satu tempat makan yang selalu berhasil mencuri perhatian para pencinta kuliner daging asap. Namanya Sei Babi Arena, sebuah kedai makan yang dikenal dengan aroma asapnya yang khas, potongan dagingnya yang empuk, dan harga yang benar-benar bersahabat. Tidak berlebihan kalau banyak orang menyebut tempat ini sebagai salah satu hidden gem kuliner harian yang wajib dicoba.

1. Porsi Small 20 Ribuan: Kecil-kecil Cabe Rawit



Menu yang paling sering dikejar pelanggan adalah paket Sei Babi versi Small seharga 20 ribuan saja. Meski diberi label “small,” banyak pelanggan yang mengaku porsinya justru cukup bikin kenyang, terutama untuk makan siang cepat yang tidak mau menguras kantong.

Dalam satu paket tersebut, pelanggan mendapatkan:

  • Nasi putih hangat

  • Daging sei babi yang diiris tipis dan diasap dengan teknik tradisional

  • Sambal yang pedasnya nendang

  • Sayur pendamping khas Arena



Rasa asap dari dagingnya masih terasa kuat, tapi tidak sampai menutupi cita rasa original daging babinya. Teksturnya lembut dan juicy, cocok dipadukan dengan sambal yang aromanya menggugah selera. Banyak yang bilang, dengan harga 20 ribuan, paket ini justru terasa “terlalu murah” untuk kualitas yang ditawarkan.

2. Porsi Big 30 Ribuan: Kenyang Maksimal, Lengkap dengan Kuah Sup dan Es Teh

Buat pelanggan yang butuh energi ekstra atau yang memang hobi makan porsi besar, Sei Babi Arena juga menyediakan versi Big seharga 30 ribu rupiah, dan ini bukan sekadar versi “ditambah nasi lebih banyak.”

Dalam paket Big, setiap pembeli akan mendapatkan:

  • Porsi sei babi yang lebih besar dan melimpah

  • Nasi lebih banyak

  • Kuah sup hangat khas Arena yang gurih

  • Segelas es teh yang menyegarkan

Paket ini jadi favorit pelanggan keluarga, pekerja kantoran, mahasiswa, termasuk mereka yang selalu bilang “nggak kenyang kalau belum makan daging.” Kombinasi sei babi smoky, kuah sup hangat, dan es teh dingin benar-benar menciptakan pengalaman makan lengkap yang membuat siapa pun ingin datang lagi.

3. Kenapa Banyak Orang Betah Makan di Arena?

Selain harganya yang bersahabat untuk berbagai kalangan, Sei Babi Arena punya ciri khas yang tidak mudah ditiru:

  • Teknik pengasapan tradisional yang membuat aroma dagingnya sangat khas.

  • Sambal yang seimbang, tidak hanya pedas tapi juga punya rasa.

  • Porsi jujur, tidak pelit meski harganya terjangkau.

  • Menu simpel tapi memuaskan, cocok untuk makan cepat ataupun santai.

  • Perpaduan rasa smoky, gurih, dan pedas yang bikin ketagihan.

Tidak heran jika banyak pelanggan yang rutin mampir, bahkan menjadikannya menu harian.

4. Cocok untuk Semua Momen

Paket Small 20 ribuan sangat cocok untuk kamu yang butuh makan enak tapi hemat. Sedangkan paket Big 30 ribu pas banget buat makan siang saat kerja, makan malam bareng keluarga, atau saat ingin memberi diri sendiri hadiah berupa makanan enak setelah hari yang melelahkan.

Banyak pelanggan juga merasa Sei Babi Arena cocok dijadikan menu take away, soalnya aromanya tetap sedap dan dagingnya tidak cepat keras.

Di era yang serba cepat dan penuh pilihan, menemukan makanan enak dengan harga terjangkau bukan hal gampang. Tapi Sei Babi Arena berhasil menjawab kebutuhan itu dengan dua paket jagoannya: Small 20 ribuan yang ekonomis dan Big 30 ribuan yang super lengkap.

Kalau kamu sedang bingung mau makan apa, kedai ini bisa jadi pilihan tepat. Datang sekali, biasanya balik lagi. Sensasi daging sei babinya .

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

A Travel Enthusiast, Hotel Reviewer, and Food Lovers. Terima kasih sudah berkunjung ke dunia kecil Makvee.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Hasil Histopatologi Anatomi yang Melegakan sekaligus Menghangatkan Hati
  • Sehat dan Bersih Saat Menstruasi Bersama Betadine Feminine Hygiene
  • Catatan Perjalanan Jogja-Dieng
  • Hutan Pinus Tempat Favorit Makvee buat “Ngadem”
  • Review Jujur Fave Hotel Malioboro
  • BIRADS 4A: Antara Panik, Pasrah, dan Pura-Pura Tenang
  • Pengalaman Eksisi Biopsi: Ternyata Nggak Seseram Itu, Hanya Mabuk Bius
  • Review Jujur Sate Ratu (Sate Kanak dan Sate Merah)
  • Hangatkan Tubuh dan Hati dengan Sari Jahe
  • Insto Dry Eyes Solusi untuk Mata Kering

Categories

Travel Kuliner hotel Travelling hotel review Hotel Jogja

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Mei 2026 (1)
  • Maret 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • Oktober 2025 (1)
  • Agustus 2025 (8)
  • Juli 2025 (1)
  • Juni 2025 (1)
  • Mei 2025 (5)
  • April 2025 (3)
  • Maret 2025 (13)
  • Mei 2024 (2)
  • April 2024 (1)
  • Maret 2024 (2)
  • Januari 2024 (1)
  • November 2023 (1)
  • Oktober 2023 (1)
  • September 2023 (2)
  • Mei 2023 (2)
  • April 2023 (1)
  • Maret 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Agustus 2022 (2)
  • Juni 2022 (2)
  • April 2022 (31)
  • Maret 2022 (5)
  • Februari 2022 (2)
  • Desember 2021 (1)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (3)
  • April 2021 (2)
  • Maret 2021 (2)
  • Februari 2021 (4)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (8)
  • November 2020 (3)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Februari 2020 (7)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (2)
  • November 2019 (3)
  • Oktober 2019 (2)
  • Agustus 2019 (4)
  • Juli 2019 (5)
  • Juni 2019 (10)
  • Mei 2019 (27)
  • April 2019 (5)
  • Maret 2019 (2)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • Desember 2018 (5)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (2)
  • September 2018 (2)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juni 2018 (2)
  • November 2017 (1)
  • Mei 2017 (1)
  • Februari 2017 (2)
  • September 2016 (1)
  • Februari 2016 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (2)
  • Mei 2015 (4)
  • November 2014 (1)
  • Oktober 2014 (1)

Komunitas Blogger Jogja

Komunitas Blogger Jogja

BLogger Perempuan Network

BLogger Perempuan Network

Komunitas Emak Blogger

Komunitas Emak Blogger

Popular

  • Review Jujur Sate Ratu (Sate Kanak dan Sate Merah)
    Yummmmy Senja menyapa perutpun berbunyi, tanda tubuh bahwa saatnya makan. Teringat sate favorit yang berada di area Jogja Paradise. Cu...
  • Review Jujur Le Mindoni Cafe
    Hi Nongkrongers? Apa kabar? Aku harap kalian baik dan sehat ya. Sebagai high quality single, Makvee pasti sangat selow dan woles ka...

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template