Istana Ratu Boko dan Keindahannya (Part 1)


Berjalan-jalan ke suatu tempat takkan lengkap tanpa menggali tentang sejarahnya atau legenda legenda atau cerita cerita rakyat yang mengiringinya. Kalau cerita turun temurun yang saya dengar dari Mbah Kakung dan Mbah Putri  tentanng Ratu Boko. Cerita Ratu Boko dan Bandung Bondowoso. Iya! Cerita tentang cinta yang ditolak dan berujung menjadi Arca di Prambanan. Ada legenda juga yang sangat berbeda dan membuat saya mengernyitkan dahi karena ada versi yang mengatakan bahwa Ratu Boko adalah raksasa yang tinggal di istana Ratu Boko. Ratu Boko sendiri ternyata raksasa yang suka makan manusia dan yang membuat saya bergidik ngeri adalah bahwa Kesatria Bandung Bondowoso adalah pembunuh raksasa Ratu Boko.

Saya juga baca dari berbagai sumber ternyata situs Ratu Boko yang asli awalnya diteliti dan dipelajari oleh arkeolog Belanda N.J. Krom. 

N.J. Krom melakukan penelitian mengenai kompleks Ratu Boko mengenai kaitan dengan kerajaan sekitarnya dan dari hasil penelitian ditemukan bahwa ada nama Nagari yang digunakan oleh keluarga Syailendra. Prasasti ini ditemukan di dalam situs Ratu Boko. Namun, masih banyak orang yang meragukan bahwa pernah ada istana yang berdiri di dataran tinggi ini. Sementara saya merasa kompleks Ratu Boko lebih cocok sebagai tempat sembayang karena di sisi timur ada tempat yang luas yang saya pikir itu tempat berdoa atau malah tempat itu panggung untuk pagelaran ah tapi sebelum itu mari kita bahas satu persatu.

Cerita berikutnya adalah sebutan Istana Ratu Boko, ini justru didapat dari orang-orang yang memiliki kelebihan khusus melihat secara mata batin. Ini dibuktikan dari catatan sejarah pula bahwa bangunan megah ini dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra persis seperti penelitian yang dilakukan oleh N.J. Krom. 

Istana Ratu Boko awalnya bukan bernama Istana Ratu Boko, namun bernama Abhayagiri Vihara (yang berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) nahhhh kan benar tebak-tebakan saya bahwa Istana Ratu Boko ini juga berfungsi sebagai tempat sembayang. Bahkan tujuan didirikan Istana ratu Boko adalah sebagai tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Memang ketika berada disana saya merasa auranya lain damai dan tenang.

Data Lokasi Istana Ratu Boko


Terletak 196 meter di atas permukaan laut. 

Memiliki Area seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. 







Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, candi pembakaran, kolam, batu berumpak, dan paseban. 

Bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. 

Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Bagian barat pengunjung yang datang kesini akan dimanjakan oleh barisan perbukitan.



Memasuki pintu besar gerbang utama kita akan langsung diarahkan menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Gapura pertama akan ditemukan tulisan 'Panabwara'. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. 



Usut punya usut pemakaian nama ini bukan tanpa alasan tapi untuk menunjukkan kekuatan, melegitimasi kekuasaan, untuk menunjukkan keagungan dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.

Berjalan lebih kurang 45 meter dari gapura kedua, kita akan menemui bangungan candi yang berbahan dasar batu putih maka bangunan isi disebut Candi Batu Putih. Berjalan sedikit bila naik kita akan sampai ke Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenasah saya auto merinding lagi tapi melongok ke bagian dalam lubang auto membayangkan. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak agak berantakan dan kolam ada didepan 10 meter dari Candi Pembakaran.

Ada sumur bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Dekat tempat pembakaran, bahkan airnya masih digunakan yang artinya masih berfungsi hingga kini. Cerita dari bapak-bapak yang ada di sekitar candi mengatakan bahwa warga desa percaya, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Saya masih akan melanjutkan ke arah tenggara dan timur tempat syuting Ada Apa Dengan Cinta kala Rangga dan Cinta sedang menikmati senja. Cerita-cerita soal senja ini akan saya bahas di part berikutnya ya. Stay Safe, Stay Healthy, Stay Happy Everyone.

Jelajah Bantul bersama Dinas Pariwisata Bantul

Makvee piknik lagi pas pandemi? Hmmmm

Minggu, 27 September 2020 Makvee tergopoh-gopoh pagi-pagi menuju Bandara New Yogyakarta Airport karena Makvee akan terbang ke Brussels untuk bertemu pangeran tampan disana. hahahahha pembukaan yang sungguh halu. Tapi siapa tahu di jawab oleh Tuhan Yang Maha Adil sehingga after Pandemi Makvee bisa flight kesana. Bantu amin teman-teman.

Jadi begini teman-teman, mari kita sudahi kehaluannya Makvee dengan mengatakan realita yang sebenarnya. 27 September 2020 adalah puncak peringatan Hari Pariwisata Sedunia a.k.a World Tourism Day 2020. World Tourism Day yang dilaksanakan secara meriah di seluruh dunia kini harus dilaksanakan dengan suasana yang hening karena pandemi Covid-19 memukul dunia pariwisata hingga tiarap. 

Makvee yang tinggal di Bantul sungguh merasa terhormat karena mendapatkan undangan dari Dinas Pariwisata Bantul untuk turut serta berpartisipasi dalam acara Puncak Peringatan Hari Pariwisata Sedunia ke-40. Acara ini dimulai di Kantor Dinas Pariwisata Bantul, mulai pukul 07.00 WIB registrasi. Nah ketahuan kan kenapaa Makvee tergopoh-gopoh keluar dari rumah pagi-pagi. Protokol yang diterapkan oleh Dinas Pariwisata Bantul sangat ketat. Mulai dari pengukuran suhu badan, cuci tangan, penggunaan hand sanitizer, dan masker.

Bekerjasama dengan Bus Gege Transport ( PT Gelis Gedhe MajuMandiri )

Makvee merasa menaiki bus wisata VIP super nyaman. Makvee merasa Bus Gege ini anti goncangan heheheh karena stabil kursinya. Makvee duduk di tengah jadi bisa mendapatkan pemandangan depan bus dan belakang, selain itu AC di bus juga menyala dengan baik.

Selama di dalam bus Makvee, kebetulan Makvee berada di bus 1. Kami tetap menerapkan protocol Kesehatan anti covid-19, tetap menggunakan masker dan menjaga jarak. 1 Kursi yang biasanya diisi oleh 2 orang kini diisi 1 orang saja.

Ide Seminar On The Road ini pertama kali dicetuskan oleh Dinas Pariwisata Bantul. Seminar on the road Minggu, 27 September 2020 memiliki tema “Pranatan Anyar Plesiran Jogja”

Dinas Pariwisata Bantul, menyiapkan pemateri di bidangnya 
Ada V. Hantoro, ST (Owner PO. Bus Gelis Gede Maju Mandiri) yang memberikan Materi Transportasi pariwisata, smart tourism dan sistem pembayaran non tunai pada industri pariwisataAda juga pemaparan Divisi Tour dan Promosi ASITA DIY (Dra. Malia Uti); dan terakhir ada pemaparan dari Divisi Pemasaran Bank BPD DIY Cabang Bantul.

Perjalanan dari Dinas Pariwisata Bantul menuju Yogyakarta International Airport lebih kurang 60 menit. Perjalanan terasa menyenangkan karena interaksi di dalam bus selama seminar on the road berjalan mengalir dan cair.


Finally Makvee touch down di Yogyakarta International Airport. Di Adisucipto International Airport mengantar Mantan untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidupku. Apakah di Yogyakarta International Airport akan menjemput yang baru? Hehehehhe.

Baca juga Taman Budaya Yogyakarta Event 2019-Pameran Tunggal Ekwan Marianto

Saat di Yogyakarta International Airport tepat di depan gerbang masuk bandar diadakan prosesi ceremony puncak Hari Pariwisata Sedunia yang dipimpin oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul dan dihadiri GM. PT. Angkasa Pura I, Pemda DIY, Pemda Kulonprogo, Bank BPD DIY Cabang Bantul, Bandan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) dan seluruh asosiasi pelaku Pariwisata Kabupaten Bantul mengikuti upacara dengan baik. GM. PT. Angkasa Pura I Yogyakarta (Persero), Agus Pandu Purnama menjelaskan bahwa Yogyakarta International Airport (YIA) baru saja mendapatkan stempel save travel dari World Travel Association yang berarti bandara ini sudah memenuhi standar Internasional. Artinya Yogyakarta International Airport sudah sangat siap untuk menyambut wisatawan dari berbagai Negara. 


Walaupun, pengembangan infrastruktur masih terus dilakukan, seperti stasiun kereta api yang nantinya memiliki akses langsung ke Yogyakarta International Airport. Bapak Agus Pandu Purnama menambahkan dan memberikan apresiasi kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul atas kolaborasinya dalam pelaksanaan kegiatan ini, “Saya berharap kegiatan seperti ini menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan di YIA”, pungkasnya. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Kwintarto Heru Prabowo, S, Sos mengungkapkan bahwa Hari Pariwisata Sedunia tahun ini mengusung tema “Bantul in New Normal Era, Cleanliness, Health, Safety and Environment”



Pelaksanaan Hari Pariwisata sedunia kali ini sengaja dilaksanakan di Kulon Progo, karena sebagai pembuktian bahwa pariwisata DIY secara kompak dan bersama-sama bangkit dalam melawan virus covid 19. “Corona Bablas, Pariwisata Jelas”, tandasnya. Selanjutnya secara simbolis puncak peringatan hari pariwisata sedunia tahun ini ditandai dengan membunyikan keprak manuk dan mainan tradisional otok-otok oleh seluruh peserta upacara sebagai simbolisasi mengusir Covid-19 dari bumi pertiwi.

Baca juga Review Jujur Le Mindoni Cafe

Setelah acara ceremony selesai Makvee pun berkeliling Yogyakarta International Airport dan masih melanjutkan perjalanan ke Pantai Goa Cemara release tukik dan sebagai penutup akhir seluruh rangkaian kegiatan Hari Pariwisata Se-dunia. Tunggu Part selanjutnya, bagaimana Makvee keliling bandara, dan acara seru apa di Pantai Goa Cemara.

Stay Happy, Stay Healthy Everyone, Muaaaaaaachhhhh.

 

Simetri Coffee Roaster Review


Menjelang senja kala itu Makvee diajak oleh teman Makvee yang mau meeting dengan clientnya. Teman Makvee menyebutkan 1 Coffee Shop yang cukup asing di telinga. Simetri Coffee Roaster di Kotabaru. Hmmm Makvee lalu tepuk jidat astaga kudet banget sih Makvee ini. Simetri Coffee Roaster yang ada di Jogja ini adalah New Branch dari Famous Coffee Shop yang ada di Jakarta. Pokoknya apapun yang bawa-bawa ibukota kan konon ceritanya selalu comfy, delicious, beda, dan good service.

But, lets see demi masa depan awesome hehhheheh

Auto kepo instagramnya dan lihat semua fotonya di media sosial sebelum mengiyakan ajakan teman Makvee itu lah ya. Selalu pasti menemukan bad review dan good review soal suatu tempat. But its Oke deh fix berangkat, dan 30 menit sampai. Makvee akan ceritakan yang sejujur-jujurnya soal pengalaman Makvee saat berada di Simetri Coffee Roaster. Good or Bad? Yuk lanjutin bacanya 

Simetri Coffee Roaster

Simetri Coffee Roaster ini adalah coffee shop yang cukup famous di Jakarta. Itupun Makvee tahu dari hasil browsing sana sini. Makvee belum pernah punya pengalaman berkunjung ke Simetri Coffe Roaster yang ada di Jakarta. So, ya begitu tahu lokasinya ada di Kotabaru Makvee auto mikir jangan-jangan pake gedung bekas bangunan Belanda lagi. 

Tebakan Makvee benar Simetri Coffee Roaster menggunakan bangunan rumah kolonial di Kotabaru. Oke mikir positif, bahwa is not creepy is not scarry. 

Oke, cukup ramai Ketika Makvee sampai di parkiran. Jauh dari kesan menyeramkan bangunan Simetri Coffee Roaster Nampak megah dari luar apalagi hari itu langit biru. Makvee masuk mengikuti protokol anti COVID-19 yang berlaku. 

Makvee sudah cuci tangan di parkiran motor. 

Saat masuk diambut sepaket hand sanitizer dan tissue dan ada warning untuk menggunakan hand sanitizer dan tissue terlebih dahulu. Disambut dengan Quote “Because Great Coffee Deserves a Great Home”



Makvee dan teman Makvee segera ke kasir untuk memesan makanan dan minuman. Tapi berhubung Makvee sedang on diet mode on. 

Walaupun hati ingin minum kopi dengan cream melimpah. Namun logika bilang “No, you are on diet mode, please be nice girl, no cheating day” Logika Makvee menang, karena Makvee juga habis makan banyak di Taste Food Studio Malioboro Mall Yogyakarta jadi Makvee finally bisa menahan diri dari semua kudapan lezat di Simetri Coffee Roaster. Makvee pesan Hot Black Tea dan teman Makvee seperti biasa ngopiy syantik. 

Makvee duduk di area dalam Simetri Coffee Roaster.

Makvee sempat berkeliling dan ngobrol tipis-tipis dengan para barista yang super ramah dan baik banget. 

Suasana Gedung colonial ini benar-benar jauh dari kata seram. 

Temboknya putih dan rasanya homey serta nyaman, ada banyak ornament kayu dan lemari kayu.

Ada pernak-pernik di rak dari berbagai negara yang cukup membuat Makvee berhenti dan stare disitu lama ngeliatin satu-satu. 

Maklum traveller local yang belum ke luar negeri jadi liat pernak-pernik lucu langsung noraknya ke luar. 


So, ya, Hot Black tea Makvee datang 

Makvee akui bahwa menu makanan di Simetri Coffee Roaster cukup beragam. Mulai dari minuman berbahan dasar kopi sampai yang bukan kopi dan juga banyak ragam menu makanan yang bisa kamu pilih. Tapi  emang Makvee ga expect kalau teh yang disajikan menggunakan teko besar. 

Wah ini nih yang Makvee suka menggunakan prinsip emak-emak hemat, banyak, dan enak. 

Makvee nungguin teman Makvee yang ketemu client dan so far so good wifinya lancar untuk Makvee yang membuka youtube, update aplikasi, install aplikasi dan upload beberapa file dan foto. 

Makvee tidak mencicipi satupun makanan yang ada di Simetri Coffee Roaster, tapi kalau dari nama di list menunya hanya ada chicken and beef. I don’t meet pork or something like bukan hallal food.

Tapi lebih lengkapnya tanya aja ketika mau pesan di kasir. Makvee sih pilih nanya selengkap-lengkapnya dibanding nyesal atau justru complain menyalahkan orang lain. 

So far Simetri Coffee Roaster all good di mata Makvee. Kalau kalian gimana udah pernah berkunjung kesini? Gimana pengalamannya? Share di kolom komentar ya. Salam sehat. Stay Happy Everyone.

Tips :

1. Kalau kamu datang ke sini dengan tujuan diskusi, bertemu client, belajar kelompok, ngerjain tugas, sambal ngopi Simetri Coffee Roaster adalah pilihan yang tepat.

2. Ada ruang-ruang yang bisa digunakan untuk komunal maupun personal. Memiliki halaman samping  yang luas Simetri Coffee Roaster menyediakan outdoor place, ntapslah gasskeun ini menguntungkan untuk pengunjung yang merokok atau ngevape.

3. Apa sih yang dicari sebuah tempat kalau bukan kenyamanan. Simetri Coffee Roaster menyediakannya dengan baik. Hal simple namun berarti adalah Simetri Coffee Roaster memiliki Barista dan para Waitress yang super duper informatif, ramah, dan memperhatikan pelanggannya. Mereka justru senang menjelaskan menu dengan detail kepada tamu yang datang.


Simetri Coffee Roasters

Jalan Sabirin No.20, Kotabaru, Yogyakarta

(0274) 501 1312

info@simetricoffee.com
Instagram: @simetricoffeeroasters
Jam buka: 09:00 – 23:00 WIB


Walk Slowly on the edge (side) of the Jakarta Road (Melipir neng Dalanane Jakarta)


Walk Slowly on the edge (side) of the Jakarta Road
 (Melipir neng Dalanane Jakarta)

Saya sendiri ketika mencoba menulis selalu tidak bisa menggunakan bahasa non formal yang benar-benar tidak formal, saya menyebut diri saya sendiri dengan “Saya” bukan dengan Gue ala-ala blognya Kaesang Pangarep putra ketiga Bapak Presiden Jokowi, atau menyebut diri dengan “Mammita” ala-ala sebutan Julia Perez kepada dirinya sendiri di Twitter, atau malah menyebut diri dengan “Eneng” seperti Saskia Gothik. Sumpah saya tidak bisa ber Loe Gue ketika menulis, atau bahkan ngomong sekalipun dengan gaya Betawian.



Beberapa tahun yang lalu, sempat tinggal di Jakarta tepatnya di Jakarta Barat karena mengerjakan study perilaku masyarakat perkotaan di sana. Dan itu tidak mengubah saya yang “Ndeso” ini menjadi lebih Ibu Kota, wong ternyata hampir pedagang-pedagang makanan di Jakarta isinya orang Jawa I mean orang Jogja, Klaten, Magelang, Banyumasan, dan kota-kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. So, ketika jajan atau beli makanan, yo ngopo Loe Guenan seriuss aku ra iso malah meksoNjuk nek Tumbas panganan maksud saya kalau saya beli makanan di Jakarta ya ngomongnya memakai Bahasa Jawa saja, tidak ribet dan yang diajak bicarapun karena sesama Jawa menjadi lebih akrab.
Orang Jawa dimanapun pasti selalu membawa keJawaannya dimanapun, Orang Jawa tidak akan terpisahkan  dari budaya yang ia terima sejak kecil. Begitupun saya, ketika saya datang ke Jakarta, ada hal yang saya tidak suka adalah. Ketika itu saya dan teman-teman saya sedang mencari kost-kostan di sekitar depan Universitas Trisakti di daerah Tanjung Duren Utara. Ketika itu kami memang datang dengan gaya ala backpacker, dengan tas backpack semi carrier dan beberapa kardus berisi bahan-bahan study kami di Jakarta. 

Waktu itu ada bapak-bapak tukang cendol yang dari logatnya saya tahu, dia adalah orang Betawi, saat saya dan teman saya lewat dia dengan kencangnya bilang “Noh, baru datang dari Kampung tuh! Dengan nada nyinyir meremehkan. Saya sempat kesal mendengarnya, tetapi kembali lagi saya baru saja datang di Jakarta dan saya tidak mau mencari masalah akhirnya dengan pasang tampang semanis mungkin saya jawab “ Iya kok pak saya dan teman-teman memang dari kampung, terimakasih pak”.


Orang pendatang dari manapun itu ketika datang selalu dikatai begitu oleh si Bapak, saya pernah mendengar beberapa kali dia selalu begitu,bukan hanya kepada saya dan teman-teman saya. Tetapi kepada anak-anak mahasiswa baru yang sedang mencari kost-kostan di Belakang Universitas Tarumanegara. Saya bukan rasis disini, tapi kata-kata Kampung! Yang diucapkan dengan Nada seperti itu menurut saya tidak pantas. 
Kita tidak boleh menyamaratakan memang. Orang Jawa yang dibilang sebagai orang yang punya tutur kata yang baik saja tidak bisa disamakan semuanya. Orang Jawa tetaplah orang Jawa yang lahir dalam individunya masing-masing (Kata prof.Magnis Suseno dalam bukunya Etika Jawa) begitu juga dengan Orang Betawi. Mungkin memang itu masalah pribadi si Bapak tukang Cendhol itu, bisa jadi ia adalah korban masyarakat yang gerah dengan semakin macetnya Jakarta. Bisa Jadi dengan cara membacot sedemikian rupa ia bisa mengungkapkan aspirasinya, dan Kekesalannya di kota yang semakin sumpek dan sulitnya mengais rejeki.
Kasihan Bapak cendhol itu, kalau seperti itu, banyak mahasiswa atau pendatang yang dikatai demikian olehnya. Bagaimana cendholnya bisa laris, bagaimana mahasiswa/mahasiswi yang disekitar situ yang tentunya rata-rata pendatang mau membeli kepada penjual yang sudah mengata-ngatai mereka seperti itu. Dan Bapak itu tetap tidak berubah, selama hampir 2 bulan di sana, saya menjadi tipikal orang Jakarta pada umumnya. Berangkat pagi pulang malam, berjalan kaki dari sky walk satu ke sky walk lainnya. Ketika butuh hiburan yang saya lakukan hanya nonkrong di Mall dekat Kost. Begitu terus, sampai akhirnya saya lupa sekitar saya, saya melupakan si Bapak Chendol kadang-kadang saking hanyutnya dalam euforia kesibukan Jakarta saya juga lupa makan dan lupa mandi #upssss semakin ngelantur ini hehehe
Ya sudah lah Apa yang kita tanam adalah Apa yang akan kita tuai nantinya”. Sekian Salam Damai.Salam Cendhol

Review YATS Colony Jogja

Hallo, teman-teman Makveestory yang tersayang, wihiyyyy masih di masa pandemi yang belum juga selesai. Makvee sebelumnya mau berterima kasih dan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para petugas medis, relawan COVID-19 di Indonesia yang menjadi garda depan petugas yang merawat para penyintas COVID-19. Makvee berharap petugas medis dan relawan tetap kuat. Tapi tolong orang-orang hentikan berkerumun yang tak perlu. Sedih Makvee tuh kalau bahas ini. Tapi oke kita skip sedih-sedihnya, mari kita sejenak bergembira dengan tetap waspada agar imun tubuh terjaga. Di masa pandemi ini Makvee masih dapat jatah staycation, gak jauh-jauh banget tapi cukup refresh hati dan pikiran lepas bebas dari rutinitas dan kerjaan yang menggunung. Makvee bersyukur sekali bisa staycation di hotel yang menerapkan protocol sangat ketat. 

Hmm kira-kira Makvee staycation dimana hayoooo, lokasinya bukan di tengah kota, di area yang cukup rindang dan daerahnya cukup unik jika disebutkan yaitu Patangpuluhan. Patangpuluhan adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Wirobrajan, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Patangpuluhan secara geografis terletak sekitar 3 km di sebelah barat daya pusat kota Yogyakarta. Patangpuluhan merupakan salah satu kelurahan yang cukup aktif  terlihat dari aktivitas yang diunggah ke situs https://patangpuluhankel.jogjakota.go.id/.

Hotel yang berada di Patangpuluhan ini masuk ke dalam list penginapan unik di Jogja. Banyak artis dan influencer terkenal yang pernah mengunjungi hotel ini. Ini dia Yats Colony Yogyakarta

Tentang Yats Colony

Terletak di Jl. Patangpuluhan No.23, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55251.

Yats sebenarnya kata walikan atau dalam Bahasa Indonesia kebalikan. YATS Colony merupakan kebalikan dari STAY kalimat dalam Bahasa Inggris yang artinya tinggal. YATS Colony masuk dalam kategori Boutique hotel. Apa sih Boutique Hotel itu, hmmm sebenarnya Makvee baca dari jurnal soal perhotelan belum ada kriteria khusus tentang boutique hotel. 

Apa Itu Boutique Hotel a.k.a Hotel Butik?

Istilah hotel butik umumnya digunakan untuk menggambarkan hotel yang memiliki desain unik dan hotelnya tidak terlalu besar areanya. Cambridge Dictionary menerjemahkan pengertian boutique hotel sebagai "a small, stylish and fashionable hotel that is not part of a chain (= group of hotels belonging to one company)" atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai hotel butik adalah hotel kecil yang bergaya modis dan bukan merupakan bagian dari jaringan hotel atau grup hotel dari sebuah perusahaan. Jadi biasanya boutique hotel berdiri sendiri. 
Ciri utamanya dari boutique hotel tentu saja rancangan desain dalam hotel yang unik. Instagramable ceunah. 
Hal ini yang terkadang jadi pilihan para traveller on budget seperti Makvee memilih boutique hotel sebagai tempat untuk beristirahat, 
namun sekaligus mendapatkan pengalaman menginap yang seru dan lain daripada biasanya, apalagi kalau bukan foto yang lebih chic. Boutique hotel juga sangat santai untuk para traveller. 
Makvee ingat cerita pengalaman salah satu teman Makvee yang satu keluarga menginap di hotel besar dengan fasilitas bagus tapi ketika breakfast, aturan di hotel itu membuat satu keluarga teman Makvee ini ga nyaman karena diharuskan menggunakan pakaian formal, bersepatu dan dress up hanya untuk breakfast. Hayo tebak hotel apa yang punya aturan kayak gitu? Psssttt bisikin ke Makvee ya kalua kalian tahu. Nah, kelebihan dari boutique hotel ini ya tentu saja tidaklah kolot dan konvensional. Menginap di sebuah hotel yang kita inginkan adalah ketenteraman kalau tidak tenteram ya menurut Makvee hospitality itu sendiri telah gagal untuk sebuah hotel, tidak peduli berapa bintang yang dimiliki oleh hotel tersebut.

Back to YATS Colony

Tipe kamar di Yats Colony ini menggunakan nama yang cukup nJawani yang masing-masing bernama HA, NA, CA, RA, KA. Hancaraka adalah sebutan untuk aksara serumpun di Jawa.

Mari kita bahas satu persatu mengenai tipe ruangannya ya gaes lets go

HA Dhuwur


Kamar HA Dhuwur

Dhuwur dalam Bahasa Indonesia berarti tinggi. Yups benar kamar ini terdiri dari 2 lantai. Kamar best seller yang menjadi incaran para penggemar dan pemuja kenyamanan dan keindahan sekaligus. Memiliki jendela dua lantai yang menjulang tinggi dari lantai ke langit-langit. Kamar HA menampilkan pemandangan langsung ke kolam dan akan membuat siapapun yang berada di dalamnya serasa tidur di antara awan. Ukuran sekitar 36 meter persegi (atau 390 kaki persegi), setiap suite memiliki area tempat duduk terpisah, sudut kerja, dan teras luar ruangan yang dihiasi dengan kursi goyang Emeco's Heritage yang dirancang oleh Philippe Starck agar Anda dapat duduk dan bersantai.

Kamar ini juga memiliki akses langsung ke kolam renang, tempat tidur king, kasur atas yang mewah, selimut dan bantal hipoalergenik (karena kami peduli dengan kenyamanan Anda), lemari es mini, brankas dalam kamar, TV LED layar datar dengan kemampuan untuk melakukan streaming konten pribadi, untuk beberapa nama. Hmm cocok untuk pebisnis yang sibuk namun tetap menikmati kenyamanan saat beristirahat.

Kamar NA

Kamar NA Yats Colony

Suite inilah yang menjadi alasan mengapa YATS Colony dapat juga disebut dengan resort butik perkotaan. Memiliki ruang tamu seluas 36 meter persegi (atau 390 kaki persegi). Kamar NA menawarkan dua akses ke lorong yang menuju ke bistro atau lounge komunal, dan ke kolam renang. Kamar NA juga memiliki kursi Alfi Emeco yang dirancang oleh Jasper Morrison dan sudut jendela yang nyaman dengan pemandangan langsung ke kolam renang

Menginap di Kamar NA kamu dapat merasakan empat tidur king bed size, kasur mewah, selimut dan bantal hipoalergenik (YATS Colony memang memberikan pelayanan yang terbaik dan peduli pada Kesehatan tamunya apalagi di masa pandemic ini), kulkas mini, brankas dalam kamar, LED layar datar dua arah (tempat tidur atau tempat duduk) televisi dengan kemampuan untuk mengalirkan konten pribadi, ruang penghubung (tergantung ketersediaan), dan kelengkapan standar lainnya.

Kamar CA

Kamar CA Yats Colony
Kamar CA memiliki double benefit bisa untuk tamu yang memiliki keperluan bisnis atau liburan, untuk pasangan atau teman, atau untuk lajang a.k.a single seperti Makvee yang hanya menginginkan ruang ekstra, biar bisa gulung-gulung sendiri. Kamar CA memiliki fleksibilitas yang dibutuhkan oleh single seperti Makvee. Memiliki ukuran sekitar 22 meter persegi (atau 235 kaki persegi) dengan akses langsung ke kolam renang. Kamar CA juga memiliki kursi Alfi Emeco yang dirancang oleh Jasper Morrison untuk melayani kenyamanan tamu saat bekerja atau hanya duduk dan berpose yhekannn.

Kamar CA memiliki pilihan 1 tempat tidur king bed size atau 2 tempat tidur single, kasur atas yang mewah, selimut dan bantal hipoalergenik (demi kesehatan Bersama mantan), TV LED layar datar dengan kemampuan untuk streaming konten pribadi. Sudut jendela yang mengarah ke kolam renang, serta ruangan terhubung yang bisa menjadi pilihan.


Baca juga Review Jujur Staycation di Alana


Kamar RA


Kamar RA Yats Colony

Kamar RA adalah unggulan dari tipe deluxe YATS Colony dan memiliki ukuran ruangan sekitar 22 meter persegi (atau 235 kaki persegi) dengan pilihan pemandangan kolam renang dan komunal lounge. Kamar RA juga memiliki kursi Sapu Emeco yang dirancang oleh Philippe Starck untuk melayani kenyamanan tamu saat bekerja atau hanya duduk.

Kamar RA memiliki pilihan 1 tempat tidur king bed size atau 2 tempat tidur single, kasur atas yang tentu saja mewah, selimut dan bantal hipoalergenik (sama seperti kamar lainnya), TV LED layar datar dengan kemampuan untuk streaming konten pribadi.

Kamar KA

Kamar KA Yats Colony
Kamar KA tidak hiruk pikuk dan sangat menyenangkan. Memiliki ukuran sekitar 22 meter persegi (atau 235 kaki persegi), beberapa di antaranya juga dilengkapi kursi Sapu Emeco yang dirancang oleh Philippe Starck untuk melayani kenyamanan Anda saat bekerja atau hanya duduk. Kamar KA memiliki pilihan 1 tempat tidur king bed size atau 2 tempat tidur single, kasur atas yang mewah, selimut dan bantal hipoalergenik (karena kami peduli dengan kenyamanan Anda), TV LED layar datar dengan kemampuan untuk streaming konten pribadi. Pemandangan taman dari Kamar KA cukup menenangkan.

Fasilitas di YATS Colony

YATS Colony menggambarkan dirinya sebagai sebuah ruang yang mengelilingi semangat kolaboratif dan hidup bersama, setiap kamar terdiri dari desain khusus dan memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan. 

Karena material yang digunakan oleh YATS Colony menggunakan bahan dari daur ulang, pelapis mewah pilihan tangan, 

tempat tidur tie-dye buatan tangan lokal oleh Purana Indonesia, bantal empuk oleh Semak Studios,

 dan karya seni asli seniman baru Indonesia, Sarkodit, semuanya eksklusif  hanya ada di YATS Colony.

YATS Colony menawarkan layanan dan fasilitas kepada semua tamu. Bahkan jika tamu membutuhkan sesuatu yang ekstra di kamar agar lebih nyaman. Makvee sangat merasakan hospitality yang baik dan exstra dari YATS Colony dengan protocol tentunya. Penting bahwa protocol anti COVID-19 diterapkan dengan baik di YATS Colony. Nah beberapa, fasilitas yang bisa direquest kepada YATS Colony adalah penjemputan di bandara, sementara fasilitas yang telah tersedia di YATS Colony adalah wifi gratis saat berada di area YATS Colony, 

ruang ritel, bistro yang hip dan instagramable, tersedia ruang rapat,

kolam renang, 

sunken lounge, dek BBQ, layanan binatu, communal lounge, dan vending machine.

Honest Review Kamar KA

Kamar yang Makvee tempati adalah kamar dengan jenis KA, berada di lantai 2

Makvee mendapatkan king bed size. 

Fasilitasnya lengkap, begitu masuk desainnya clear dan bersih, mari kita room tour isinya apa saja.

1 keranjang berisi perlengkapan perang mari kita unboxing satu persatu  

Rikma yang artinya rambut padahal di dalamnya sisir, gemas sama packagingnya
Ada surat kecil dari YATS Colony. tertumpuk diantara paketan cantik tadi
Sabun padat yang dibungkus dengan rapi, menurut Makvee sabun ini lebih seperti gift karena di dalam toilet sudah disediakan sabun cair yang melimpah.
Sepaket toiletries yang lengkap di genggaman

Ada masker orange yang unyu sungguh baik YATS Colony ngasih masker. Padahal di depan communal lounge juga disediakan masker namun memang tidak setebal dan senyaman masker orange ini.

Waja artinya gigi, tentu saja ini sikat gigi.
Tersedia juga pisau cukur bagi bapak-bapak dan mas-mas berjenggot tebal, tuh disediakan tuh.
Bucal artinya buang, plastik kecil untuk membuang sampah.


Lengkap banget kan paketnya berasa dapat paket seserahan ehhhh

Kamar yang fleksibel ini memang penuh dengan kemungkinan, mau seharian tidur di dalam kamar boleh, mau nonton tivi boleh, 

mau bekerja juga boleh karena to be honest wifinya kenceng banget. Super comfy buat kalian yang mau escape dari rutinitas yang padat. 

Pancuran air hangat yang menenangkan dan sabun serta shampoo yang melimpah (YATS Colony emang ga pelit disediakan sabun dan shampoo yang banyak) Jadi betah berlama-lama di bawah shower disiram air hangat. Pintunya digeser dan ada kacanya jadi kalua mau berkaca seluruh badan tinggal tutup full saja pintunya. Makvee sih suka foto-foto di kamar mandinya karena ternyata lucu juga foto-foto di kamar mandi. Sejauh ini Makvee merasa nyaman dengan fasilitas di kamar dan lorongnya, kalau Makvee kasih nilai dari skala 1-10 nilainya 9. Review soal komunal lounge dan pengalaman breakfast di YATS Colony bakalan Makvee posting di cerita Makvee berikutnya. Stay Happy, Stay Healthy, Staycation, mmmuachhhh.