Kotagede,

Menjejakkan Kaki Di Kotagede Saksi Bisu Kerajaan Mataram

Juni 21, 2019 Ceritamakvee 8 Comments


Perlahan-lahan sepeda motor saya melaju menuju Kotagede. Kotagede yang dibahasa Indonesia berarti Kota Besar. Tapi entah kenapa jika sampai di Kotagede ada aura yang berbeda yang saya rasakan. Lebih teduh lebih hening dan lebih sepi walaupun lokasi yang sedang saya datangi dekat dengan keramaian di Pasar Kotagede.

Kotagede adalah saksi berdirinya Kerajaan Mataram (sekarang disebut Jogja/Yogyakarta). Pada abad ke-8, Kerajaan Mataram merupakan pusat Kerajaan Mataram Hindu. Kerajaan Mataramlah bisa disebut sebagai Kerajaan Mataram Hindu yang kuat dan menguasai seluruh Pulau Jawa.
Bukti peninggalan Kerajaan Mataram dapat dilihat dari sisa-sisa peninggalannya. Seperti adanya Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Pada masanya selain sebagai Kerajaan yang kuat Kerajaan Mataram dikenal sebagai Kerajaan yang makmur. Atas dasar memiliki kemakmuran dan peradaban yang luar biasa maju inilah sehingga Kerajaan Mataram mampu membangun Candi dengan arsitektur yang luar biasa, indah, megah, dan bermakna. Namun singkat cerita pada abad ke-10, dengan suatu alasan yang saya sendiri belum menemukan alasannya di berbagai sumber manapun. Mengapa Kerajaan Mataram bedol desa alias memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur. Rakyatnya pun berbondong-bondong meninggalkan Kerajaan Mataram dan kemudian berubahlah tempat yang semula ramai lambat laun kembali sunyi dan menjadi hutan lebat.

Salah satu pintu kayu berornarmen yang ada di Kotagede
Era Kerajaan Mataram pun berhenti pada tahun 1613, Setelah Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Pleret Bantul) dan berakhirlah era Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam. Situs ini kemudian kini dikenal dengan Situs Kerto Keraton Sultan Agung yang berada di Kerto, Kanggotan, Pleret, Bantul.


Setelah Kotagede tidak menjadi ibukota kerajaan. Masih tersisa peninggalan sejarah yang hingga kini masih ada, seperti adanya makam pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa. Ya apalagi kalau bukan menjadi tempat wisata gratisan seperti pelancong hemat macam saya ini. Yang terbaik dari berkunjung ke Kotagede adalah tata kota di Kotagede masih menggunakan tata kota masa lampau yang sungguh klasik dan elegan.

Reruntuhan benteng pun masih terlihat dan dapat ditemukan di Kotagede.
Dan dalam perkembangan selanjutnya Kotagede tetap ramai meskipun sudah tidak lagi menjadi ibukota kerajaan. Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng bisa ditemukan di Kotagede, juga yang sering digunakan sebagai tempat foto prewedd adalah Masjid Kotagede dan rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas. 

Selain klasik, saya sendiri sudah jatuh cinta dengan setiap inci Kotagede sejak lama. Ada banyak kenangan manis bersama simbah putri di Pasar Kotagede. Saya ingat berkeliling pasar bersama simbah putri tiap hari Minggu tiba. Kami berjalan-jalan di pasar, dan simbah kakung menunggu kami di luar.

Pasar Kotagede ini adalah pasar tua. Setiap pasar yang ada di Yogyakarta khususnya memiliki kalendernya masing-masing. Dan kalender ini tentu saja menggunakan penanggalan Jawa. Kalau Pasar Kotagede ini akan mengalami puncak ramai atau kalau orang Jawa menyebutnya dengan “pasarane” setiap Legi dalam hari apapun. Yang juga menarik dari Pasar Kotagede ini walaupun bangunannya telah direhabilitasi dan mengalami peremajaan berkali-kali, namun posisinya tidak berubah.


Hal ini sesuai yang dikatakan menurut sejarah, bahwa dalam tata kota kerajaan di Jawa kebiasaannya adalah menempatkan keraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan - utara. Hal ini juga tertulis dalam bahasa sansekerta di Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14). Di dalam kitab ini tertulis bahwa pola pembangunan dengan mode poros selatan-utara sudah digunakan pada masa itu. Pasar tradisional di Kotagede ini juga dibangun sejak  Masa Panembahan Senopati masih aktif dan bertahan hingga kini.

Uhmmm Maka, saya sangat menyarankan jika berkunjung ke Yogyakarta nikmati juga lokalitas dan kearifan lokal yang ada di Pasar Kotagede, seperti yang tergambar dalam scene AADC ketika tokoh Cinta dkk menikmati hidangan khas angkringan di Kotagede.


Selain memiliki sejarah yang luar biasa, bangunan-bangunan di Kotagede yang apik dan fotogenik membuat sayapun tak lupa mengabadikan moment ketika berada di sana. Ada tembok hijau yang cukup genit untuk dijadikan sebagai latar belakang foto.

Dan, Jika kita berjalan lebih kurang 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, maka kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi dan kokoh.

Gapura masuk ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura juga  memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Kompleks ini dijaga oleh abdi dalem yang menggunakan busana adat Jawa dan menjaga kompleks ini selama 24 jam sehari.


Berjalan-jalan menyusuri Kotagede selain membawa ingatan saya pada kebersamaan bersama simbah sekaligus juga memperkaya wawasan saya tentang sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Pulau Jawa. Selain itu, kita masih bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh. pssstt katanya masih ada yang menganut kebudayaan konco wingking

Kotagede saya rekomendasikan bagi kalian yang sungguh menikmati keheningan khas Jogja dan keramahan yang sungguh "njawani"

You Might Also Like

8 komentar:

  1. Aku juga hobi banget jalan di sini mak, dari dulu sampe sekarang nggak bosen2... Kapan2 jalan bareng yok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoklahhh janjian kita menuju kotagede hasek

      Hapus
  2. Iya, wilayah ini selalu menawarkan aura yang berbeda. Rasanya selalu sesuatu bila di situuh.

    BalasHapus
  3. Aku ketagihan ke sini , setelah beberapa waktu lalu diajak nyetrit bareng. Ternyata setiap sudutnya memang menghipnotis ya

    BalasHapus
  4. Bener banget mbak, auranya beda. Apalagi setelah melewati pasarnya. Berasa memasuki lorong waktu ke masa lampau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena pasar itu memang tak pernah berubah posisinya dan selalu sama beda aja sama pasar2 lain

      Hapus