Jelajah Bantul Desa Wisata Krebet


Jelajah Bantul seharian full, asyik sekaleeeeee, Hallo, teman-teman Makvee, semoga kalian dalam keadaan sehat ya. Makvee baru saja seharian full dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB menyempatkan waktu ditemani oleh kawan-kawan dari Dinas Pariwisata Bantul dan para Travel Blogger dan Influencer berkeliling ke tempat-tempat wisata yang 2 diantaranya dekat dengan rumah Makvee. 

Tapi, malunya adalah walau dekat dengan rumah tapi baru pertama kalinya Makvee berkunjung. Sungguh warga Bantul yang durhaka kebanyakan eksplore luar kota yang dekat malah belum dikunjungi.

Desa Wisata Krebet 

Desa Wisata Krebet adalah sentra industri batik kayu yang mempunyai potensi kepariwisataan baik dari sisi budaya maupun potensi alam. Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan Krebet sebagai Desa Wisata.

Sumber https://www.krebet.com/

Telah memiliki Website https://www.krebet.com/ tercatat bahwa Desa Wisata Krebet melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi bersama Kementrian Perindustrian Republik Indonesia telah memfasilitasi Pengembangan Klaster Batik Kayu Krebet. Fasilitasi pelatihan dan alat, serta pameran telah diberikan demi berkembangnya batik kayu di Krebet.

Pada saat ini di Sentra Industri Kecil Menengah Krebet telah berdiri Koperasi Sidokaton yang beranggotakan 57 Anggota. Sebagai bagian dari penduduk Bantul Makvee tahu bahwa Pembinaan generasi pengerajin batik kayu Krebet dapat berjalan baik. Ini membuat anak-anak kampung sekitar Krebet menjadi produktif dan kreatif sehingga tidak mengalami apa yang disebut dengan "gabut" atau mager. Jika banyak warga yang menggerakkan batik kayu krebet maka akan lebih banyak yang mengenal dan menikmatinya sebagai sebuah hasil kerajinan asli Bantul yang memiliki nilai seni tinggi dan patut untuk dikoleksi dan dibanggakan

Sejarah Kerajinan Batik Kayu di Desa Wisata Krebet

Sebelum disebut sebagai Desa Wisata. Krebet adalah wilayah dengan keadaan geografis yang berupa perbukitan berkapur. Warganya hidup dari sektor pertanian. Pada tahun 1970-an sebagian kecil masyarakat dusun krebet mencari pekerjaan lain selain bertani, salah satunya adalah membuat kerajinan berbahan baku kayu seperti irus, siwur, beruk dan pisau. Kerajinan tersebut tidak bisa disebut sebagai pekerjaan utama, saat itu hanya digunakan untuk tambahan memenuhi kebutuhan hidup warga Dusun Krebet. Kerajinan kayu tersebut kemudian dikenal oleh desa-desa sekitar dan semakin menambah penghasilan disela-sela bertani. 

Namun karena bentuk kerajinan kayu dan proses pembuatan yang sederhana membuat kerajinan kayu tersebut belum mempunyai daya jual yang tinggi. Meskipun sederhana, kerajinan kayu adalah kerajinan pertama yang ada di Dusun Krebet.

Baca Juga Jelajah Bantul bersama Dinas Pariwisata Bantul

Bapak Gunjiar merupakan pengembang konsep kerajinan kayu yang paling dasar, sekita tahun 1972-an Bapak Gunjiar menggembangkan bentuk-bentuk lain yang lebih membutuhkan detail tinggi, salah satunya membuat patung semar. Pada saat pameran, banyak pengunjung yang menyukai kerajinan hasil karya Bapak Gunjiar yang inovatif, mengingat beliau belajar ukir secara otodidak. 

Hingga suatu saat ada seseorang datang dan memesan sebuah topeng, hal tersebut membuat Bapak Gunjiar merasa tertantang dan memutuskan untuk nyantrik/magang ditempat Pak Warno Waskito seorang pengrajin topeng yang sudah terkenal dalam dunia seni pertunjukan, khususnya kesenian yang menggunakan topeng di Yogyakarta, dan akhirnya topeng pesanan dapat ia selesaikan dengan baik.

Pengrajin lain dan juga asli warga dusun krebet adalah Bapak Kemiskidi, ia adalah pengerajin sekaligus pemilik sanggar Peni. Kemiskidi menimba ilmu membuat topeng kayu melalui Bapak Warno Waskito lalu menggembangkan kerajinan topeng dan memasarkannya sendiri. Dari hasil penjualan kerajinan buatannya ia dapat melanjutkan pendidikan ke-tingkat SMA. Kemiskidi pun mampu bertahan dan mengembangkan usahanya dan sanggar Peni yang mampu menyerap 50 tenaga pengrajin hingga saat ini.

Kak Prima Bersama Para Wayang

Ada pula Bapak Anton Wahono, seorang pengrajin asli dari Dusun Krebet, ia pemilik sanggar Punokawan yang dahulu merupakan pengrajin wayang kulit. Berbekal kemampuan menyungging, ia membuka usaha produksi wayang kulit. Pada tahun 1988 pemerintah mempunyai kebijakan baru bahwa kulit mentah dapat diekspor, sehingga kulit didalam negeri semakin sulit didapat dan mahal. Sulitnya mendapatkan bahan kulit dengan kualitas bagus mempengaruhi harga jual kerajinan wayangnya. Anton Wahono mengganti usahanya dengan memproduksi wayang klithik yang terbuat dari kayu. Kesuksesan mengelola hasil produksinya, Anton Wahono berhasil dalam meraih gelar sarjana pada Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Widya Mataram Yogyakarta.

Eh simbahnya lewat heheheh

 Baca Juga Review Cottage : Kampoeng Media Penginapan Asri di Jogja

Sekitar tahun 1980-1985, kerajinan belum begitu diminati oleh masyarakat Krebet sebagai mata pencaharian utama. Sanggar-sanggar yang ada saat itu masih sedikit. Seiring perjalanan waktu permintaan pasar kerajinan dari kayu mulai meningkat, barulah kemudian sedikit demi sedikit ada warga yang mulai bekerja sebagai buruh pengrajin di dua sanggar ini yaitu sanggar Peni dan sanggar Punokawan.

Selain sebagai tempat pembukaan Jelajah Bantul,


Makvee Bersama teman-teman Blogger dan Influencer berkesempatan untuk melihat langsung workshop proses pembuatan segala macam kerajinan.


Acara formal dimulai, Makvee fokus pada makanan yang berada dalam wadah besek,

Sekotak kebahagiaan dalam kesederhanaan

ada bacem tempe benguk, telo godog, dan kacang godog, 

serta wedang legen, berasa minum alkohol versi kearifan lokal. Tapi tenang ini tidak beralkohol hihihi hanya baunya saja menyerupai.

Mulai dari batik kayu, patung, hingga wayang. Semuanya dalam 1 tempat di Desa Wisata Krebet. 

Makvee tertarik dengan batik kayu, yang ternyata lilinnya yang mirip dengan gula batu itu ketika dipanaskan agar mencair dibuat lebih encer. 


Berbeda dengan ketika membatik di atas kain, lelehan lilin lebih padat karena dibiarkan meresap di kain. Menurut ibu pembatik yang saya tanyai, beliau belajar membatik di atas kayu hingga lancar efektif belajar 1 bulan baru bisa.

 
 
Makvee lalu berkunjung ke bagian pengalusan kayu dan pencelupan kayu agar warnanya lebih kuat.
 

Ada pula gudang penyimpanan ukiran kayu dan topeng setengah jadi.



Makvee juga sempat melihat Bapak yang sedang menatah kayu agar menjadi kayu yang unik dan bentuk yang populer.

Proses pengecatan kursi batik custom.


Makvee kemudian melagkah ke depan, ke hasil jadi di showroomnya yang berisi banyak sekali kerajinan yang cantik, seperti topeng batik, sepatu batik, wayang, dan lain-lain.


Bisa dibilang jika berkunjung ke Desa Wisata Krebet banyak hal-hal edukatif yang didapat apalagi 1 tempat bisa digunakan untuk belajar mulai dari proses bahan mentah, barang diolah, packing, hingga siap dijual karena tersedia ruang pamer yang memadai. 



Bahkan pengunjung pun dapat pulang membawa barang hasil kerajinan sebagai kenang-kenang-an atau oleh-oleh.

Sebelum masa pandemi COVID-19 Outbreak Desa Wisata Krebet menerima kunjungan berturut-turut dari tanggal 11-13 Februari 2020, salah satu yang berkunjung adalah dari SMA Santo Michael Kota Cimahi sebanyal 101 Siswa dan 6 Guru Pendamping. 

 

Masih di bulan yang sama Desa Wisata Krebet mendapatkan kunjungan dari SMK N 3 Tasikmalaya.

Kemarin ketika Makvee kesana kunjungan menurun drastis, Makvee berharap pandemi segera berakhir agar pariwisata kembali hidup dan semarak. Stay Happy, Yuk Jelajah Bantul dan berkunjung ke Desa Wisata Krebet.

5 komentar

  1. Wah pokoknya seru bangettt ya bisa berkesempatan berkunjung ke Desa Wisata Krebet. Ternyata batik tak hanya di aplikasikan di kain saja. Kayu pun bisa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Benar ternyata dekat rumah lhooo, kerennn aku menikmati setiap alur ketika ibunya membatik di kayu, dan tidak smeudah itu fulgoso belajarnya lama, penuh effort

      Hapus
  2. Ini kalo sepupuku yg pecinta furniture dan hiasan kayu ngeliat, mungkin bakal diborong Ama dia, utk jd hiasan di showroom-nya :D.

    Aku suka barang2 antik dr kayu. Walopun di zaman skr udah ga terlalu ngetrend Krn orang2 jd LBH suka style minimalis.

    Tapi tetep sih, buatku perabotan dan hiasan kayu LBH warm kesannya, dan bikin rumah cozy :)

    BalasHapus
  3. wah keren ini, aku suka liaht topengnya. bantul daerah nenek buyutku ini

    BalasHapus