Makvee Story

Travel Enthusiast, Hotel Reviewer, and Food Lovers

  • Home
  • Travel
  • Kuliner
  • Hotel
  • Lifestyle
  • Contact Us

Ramadan itu bulan penuh berkah. Katanya, segalanya jadi lebih tenang, lebih sabar, dan lebih produktif. Tapi, siapa pun yang bilang begitu jelas belum pernah menjalani Ramadan sebagai ibu tiga anak yang kerja dari rumah.

Saya ini ibu rumah tangga merangkap blogger dan content creator. Artinya, di bulan puasa, saya harus tetap waras di antara deadline tulisan, anak-anak yang heboh ngabuburit, dan koneksi Wi-Fi yang sering goyah seperti iman saat melihat takjil enak sebelum maghrib.  

Mari saya ceritakan bagaimana Ramadan ini saya jalani dengan penuh semangat, atau lebih tepatnya dengan penuh keajaiban dan sedikit air mata.

Episode 1: Sahur, Ngantuk, dan Inspirasi yang Tidak Muncul
Hari dimulai sejak sahur. Setelah menyiapkan makanan dan membangunkan anak-anak (yang kalau dibangunkan lebih susah dari mengajarkan matematika ke kucing),saya duduk di depan laptop dengan niat mulia: menulis satu artikel sebelum subuh.

Tapi apa yang terjadi?  
Mata mengantuk, otak nge-hang, jari malah ngetik "riaiasgshdhdhdghss" di halaman kosong.

Sementara itu, anak-anak sudah mulai ribut lagi. Si sulung minta tolong cari kaos kaki, si tengah sibuk nyanyi lagu kartun, dan si bungsu… entah kenapa sudah lari-lari sambil pakai sarung di kepala seperti superhero.

Inspirasi? Hilang.  
Kesabaran? Mulai diuji.  
Satu-satunya hal yang bertahan? Deadline yang tetap harus selesai.

Episode 2: Work From Home atau Work From Chaos?
Pagi menjelang, dan saya mulai bekerja serius. Laptop menyala, kopi tanpa gula siap, anak-anak masih anteng (sebentar).

Tapi baru menulis dua paragraf, tiba-tiba terdengar suara:  

IBUUUUUU! KAKAK NGGAK MAU BERBAGI CRAYON!!!

Dalam sekejap, ruang kerja saya berubah menjadi ring tinju. Saya mencoba tetap tenang. Work From Home itu artinya multitasking level dewa. Saya bisa:  
- Mengetik dengan satu tangan  
- Menenangkan anak-anak dengan tangan satunya  
- Menghela napas panjang sambil berkata dalam hati, "Sabar, ini Ramadan."

Setelah drama crayon selesai, saya kembali ke laptop. Kali ini siap menulis dengan fokus. Tapi kemudian
Wi-Fi mati.
Saya menatap layar kosong dengan ekspresi pasrah. Dalam hati, saya merenung, apakah ini ujian dari semesta?

Episode 3: Tetap Semangat, Walau Sinyal (dan Kesabaran) Terkadang Lemah 
Siang hari, saya mencoba mencari solusi. Kalau Wi-Fi mati, ya sudah, saya pakai hotspot.Tapi ternyata, paket data saya hampir habis.

Mau marah? Nggak boleh, ini bulan puasa.
Mau nangis? Percuma, nanti anak-anak malah ikutan heboh.

Akhirnya saya ingat pepatah ibu-ibu: "Tetap tenang, cari celah, dan lanjutkan perjuangan." Saya pun menulis draft di notes HP dulu, sambil menunggu internet kembali.  

Di sela-sela itu, anak-anak mulai tertarik melihat saya ngeblog dan ngonten.  

"Ibu ngapain sih?" Tanya si sulung ingin tahu

Saya tersenyum, "Ibu kerja biar bisa beli jajan buat kita."

Mata mereka langsung berbinar.  

Dan tiba-tiba, mereka berubah jadi asisten pribadi yang sangat suportif.

Si sulung: "Ayo Ibu, semangat! Harus kelar ya tulisannya!"
Si tengah: "Aku bantu edit foto Ibu!"
Si bungsu: "Aku nggak ganggu Ibu dulu tapi mau minta peluk?" Ucapnya sambil mau menangis

Momen ini bikin hati saya meleleh.Oh, ternyata meski Work From Home penuh drama, tetap ada kebahagiaan yang tidak bisa digantikan.  

Episode 4: Akhirnya Posting Konten, Saatnya Buka Puasa!
Setelah perjuangan panjang, akhirnya artikel saya selesai. Blog update, konten untuk media sosial terposting, dan saya merasa seperti pemenang olimpiade.

Sore menjelang, kami mulai ngabuburit. Kali ini bukan dengan drama, tapi dengan momen santai bersama. Anak-anak belajar bahwa kerja keras itu penting, dan saya belajar bahwa sabar itu memang harus dipraktikkan setiap detik.

Ketika adzan maghrib berkumandang, saya menatap segelas es teh di depan saya dan berkata dalam hati:  

"Terima kasih, untuk hari ini telah memberikan kekuatan untuk melewati Work From Home hari ini."

Dan tentu saja, terima kasih juga pada Wi-Fi yang akhirnya kembali normal.

The Next day

Work From Home Penuh Drama: 
Tetap Perjuangan, Tetap Cinta

Setelah hari pertama Work From Home (WFH) di bulan Ramadan penuh drama dan keajaiban sinyal internet, saya pikir hari-hari berikutnya akan lebih mudah.

Saya salah.

Karena yang namanya ibu tiga anak kerja dari rumah, Ramadan atau bukan, tetap seperti masuk ke arena gladiator.
Bedanya, sekarang saya lebih siap. Lebih tahan banting, lebih banyak stok tisu buat nangis diam-diam, dan tentu saja, lebih sering mengingatkan diri sendiri:  
"Sabar, ini bulan puasa. Pahala bertambah, bukan amarah."
Tapi ya… tetap saja, kenyataan kadang tidak semanis takjil kolak pisang.  

Episode 5: Ketika Zoom Meeting Berubah Jadi Konser Anak-Anak
Hari itu saya ada meeting online dengan klien. Meeting penting.
Saya sudah siapkan segalanya. Background rapi, baju formal (walau bawahnya tetap daster), dan tentu saja, saya sudah mengancam anak-anak untuk tenang selama satu jam ke depan.

"Pokoknya jangan ada yang teriak-teriak, ya. Ibu kerja!"

Mereka mengangguk patuh. Saya sempat berpikir, wah, ini bakal berjalan lancar. 
Saya salah. Lagi.
Meeting baru berjalan lima menit, dan tiba-tiba…  
IBUUU! LAGU 'BABY SHARK' ADA VERSI BARUUU!" teriak si bungsu dari ruang tamu.  

Saya masih mencoba tetap profesional. Mikrofon saya mute

Tapi kemudian, si tengah datang dengan wajah panik.  

"Ibu, kucing tetangga masuk ke dapur! Sekarang dia lagi tiduran

Saya ingin menangis. Klien di layar menatap saya dengan senyum canggung, sementara saya mencoba tetap tenang (dan menahan tawa sekaligus stres).

Saya kasih kode ke anak-anak dengan tatapan "SABAR YA INI BULAN PUASA!"  

Tapi ya, sebuah meeting tanpa insiden bocil bukanlah meeting seorang ibu sejati. 

Untungnya, klien saya ternyata juga seorang bapak-bapak yang paham betul bagaimana rasanya kerja dari rumah dengan anak-anak. Dia malah tertawa dan bilang, "Santai, Mbak. Anak saya juga kadang numpang tampil pas saya presentasi."

Baiklah. Misi tetap profesional: Gagal. Tapi misi bertahan hidup? Lulus dengan nilai B-minus. 

Episode 6: Ketika Tulisan Harus Kelar, tapi Anak Minta Dibuatin Istana dari Bantal
Sebagai blogger dan content creator, Ramadan itu high season. Banyak tulisan yang harus saya buat, banyak konten yang harus saya edit.  

Tapi sayangnya, anak-anak tidak peduli deadline.

"ibu, kita mau bikin istana dari bantal. Ibu bantuin ya!" kata si tengah.  


Saya menatap mereka. Di satu sisi, saya harus menyelesaikan artikel yang sudah telat dari tenggat waktu. Tapi di sisi lain, tiga pasang mata kecil itu menatap saya dengan penuh harapan.  

Saya menarik napas panjang.  

"Baiklah, 10 menit aja ya. Abis itu Ibu kerja." 

Mereka bersorak, dan saya pun ikut menyusun bantal-bantal menjadi "istana". Entah kenapa, di dalam hati saya justru merasa lebih rileks.  

Karena ternyata, di antara stres dan deadline, momen-momen kecil seperti ini yang bikin Ramadan di rumah terasa lebih berarti.  

Setelah istana bantal selesai, mereka kembali sibuk bermain, dan saya bisa mengetik dengan tenang  

Episode 7: Tetap Ada Bahagia yang Tidak Bisa Digantikan
Sore itu, saya duduk di depan laptop dengan secangkir teh hangat (yang akhirnya bisa saya minum setelah dingin karena selalu teralihkan).  
Saya menatap anak-anak yang tertawa-tawa sendiri sambil bermain di ruang tamu.  
WFH di bulan Ramadan memang tidak mudah. Penuh tantangan, penuh kejutan, dan seringkali penuh keinginan untuk menyerah dan rebahan tanpa beban.  

Tapi di tengah semua itu, saya sadar satu hal.  

Saya mungkin kelelahan. Saya mungkin merasa tidak cukup produktif. Tapi… saya tetap bersyukur.

Karena di sela-sela kekacauan, ada banyak momen kecil yang berharga.  
Karena meskipun saya harus mengetik sambil menggendong anak, saya tetap bisa berkarya.  
Karena meskipun Wi-Fi sering mati, cinta di rumah ini tidak pernah lemot.

Dan yang terpenting, meskipun hidup ini kadang terasa seperti deadline tanpa akhir…  

Kesimpulan: Ramadan, Work From Home, dan Ibu yang Tak Kenal Menyerah
Work From Home sambil mengurus tiga anak di bulan Ramadan itu ibarat main game dengan level tersulit. Tapi, bukan berarti tidak bisa dijalani.  

Caranya? Sabar, adaptasi, dan sesekali… tertawa.
Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak deadline yang kita kejar, tapi tentang bagaimana kita menikmati setiap momen.  
Dan kalau pun semuanya terasa kacau? ingat, sebentar lagi buka puasa. Semua pasti baik-baik saja!

Baru tahu ada Premium Homemade Bakery di Kupang. Tinggal setahun di Kupang ada bakery yang rotinya premium dan enak-enak banget. Pssssttt Padahal habis dari bakery sebelahnya, kemudian mampir ke Homemade Bakery tapi emang beda feel-nya.


Dari segi harga roti memang lebih murah bakery sebelah. Tapi begitu makan homemade bakery yang ini dijamin akan merasakan hal yang berbeda dari segi rasa dan bahan. 

Emang apa sih Makvee nama bakerynya?

Ini semacam hidden gem premium homemade bakery di Kupang. Karena walaupun lokasinya masuk dalam gang tapi pelanggannya bukan kaleng-kaleng. Premium Homemade Bakery ini bernama Unni Bakery.

Singkat cerita didirikan oleh Kak Mita bersama suaminya. Kira-kira 7 tahun yang lalu, 5 tahun jalan online sisanya akhirnya memiliki gerai sendiri dan dapur yang lebih bagus di tempat yang sekarang. Sebuah perjalanan Premium Homemade Bakery dari yang awalnya berjualan online hingga akhirnya punya gerai dan everyday fresh from the oven.



Kalau kamu masuk ke Unni Bakery pasti akan mencium aroma roti yang fresh baru aja matang. Karena tiap 2 jam mereka isi lagi tray yang sudah kosong, jadi dijamin roti yang ada hari itu adalah roti yang memang baru dibuat.


Ragamnya ada banyak rasanya pun boleh diadu dehh, sesuai dengan taglinenya Premium Homemade Bakery. Roti yang ada di Unni Bakery bervariasi demikian juga harganya. Ada Permesan Cheese Bread ini favorit Makvee, kemudian Choco Peanut, Srikaya, Sosis Red Cheddar, Long Cheese,  Blueberry Cream Cheese, Mexican Chocolate, Pandan, Choco Cheese, Milk Bun, dan masih buuuuanyak lagi. 



Harga roti di Unni Bakery start 8,5k harga yang worth it untuk roti yang seenak itu. Karena pasti dimanapun ada harga ada kualitas. Nah, kalau soal ketahanan roti di Unni Bakery itu tergantung jenisnya tapi rata-rata sekitar 3-4 hari. Jadi pas banget buat kalian yang mau keluar kota atau keluar pulau bawa bekal atau oleh-oleh dari Unni Bakery. Mereka punya box roti atau bisa pilih paper bag yang desainnya lucu banget. 

Unni Bakery ini juga menerima pesanan partai besar dan kecil serta hampers roti juga bisa. Yuk makan roti yang sehat dan berkualitas hanya di Unni Bakery Kupang Real Premium Homemade Bakery.


Unni Bakery
Depan Mesjid Al Istiqomah.
Jl. TDM I, Tuak Daun Merah, Oebobo.
Maps : https://maps.app.goo.gl/1Rqi8GU7W3t1UBZa7

Review Jujur Massage di RELAXOLOGY Kupang, 
Sebagai pasangan yang sudah Jompo akhirnya kami memutuskan untuk pijet bersama ke RELAXOLOGY Kupang. 


Disclaimer dulu nih sebagai pemuja massage aku memang yang lumayan sering mengagendakan massage. 

Terutama dulu pas di Jogja emang rajin banget massage sebulan bisa 2 kali. Selama di Kupang belum pernah sama sekali massage, dan finally menemukan RELAXOLOGY Kupang yang ternyata udah buka 8 tahun di Kupang jadi tidak diragukan lagi kualitasnya.


Tagline dari RELAXOLOGY Kupang adalah REST REVIVE  RELAX REVITALIZE  REFRESH.








The best family relaxation center di Indonesia. Semua therapistnya best, sudah punya sertifikat dan mendapatkan pelatihan berkelanjutan dari perusahaan. 


RELAXOLOGY pusatnya ada di Jakarta dan telah memiliki cabang di Bekasi, Kerawang, Tangerang, Surabaya, Bengkulu, Lampung, Maluku, NTT, dan Bandung. RELAXOLOGY sendiri sudah memiliki total 16 outlet.



Kemarin aku ambil Massage plus Face Therapy dan mendapat therapist super baik namanya Kak Aty. Suamiku ambil sport massage bersama Kak Renol. Walaupun hamil tapi tetep bisa pijat disini dengan usia kehamilan di atas 5 bulan. Kehamilanku udah 6 bulan jadi aman banget pijat disini. Khusus bumil pas dipijat tidurnya menyamping.

Btw lagi ada promo, Treatment 150K akan mendapatkan free Face Teraphy.

Ini Review dari aku dan suamiku setelah kami lemas karena keenakan dipijat
1. Pijitannya Kak Aty dan Kak Renol Mantap dan enak. Apalagi suamiku ambil Sport Massage jadi dijamin cocok untuk dia yang badannya keras.

2. Bisa menyesuaikan tekanan kalo kurang kencang pijatannya apalagi aku sedang hamil tekanan di bagian leher dan kaki aku minta tambah karena selama hamil semuanya pegel.

3. Awalnya aku ga expect kalau Tempatnya luas dan pas masuk lumayan luas gaes dan masih ada di lantai atas juga. Tempatnya nyaman dan fasilitasnya oke banget. Toiletnya juga bersih.


4. Pelayanannya super ramah bahkan ada kritik dan saran kalau therapist atau karyawan RELAXOLOGY ada yang jutek dan tidak ramah bisa dilaporkan ke nomor yang tertera.



Demikian ceritaku setelah menikmati treatment di RELAXOLOGY Kupang.

Yuk #RelaxAjaDulu di RELAXOLOGY.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

A Travel Enthusiast, Hotel Reviewer, and Food Lovers. Terima kasih sudah berkunjung ke dunia kecil Makvee.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Review Azalea Hijab Shampoo Terbaik untuk Rambutmu
  • Pantai Ngitun, Teluk Kecil Nan Cantik di Gunungkidul
  • Mezzanine Eatery and Coffee: LOVE POTTED
  • Fave Hotel Malioboro "Staycation Syalalalala" Part 1
  • Sehat dan Bersih Saat Menstruasi Bersama Betadine Feminine Hygiene
  • Hangatkan Tubuh dan Hati dengan Sari Jahe
  • Istana Ratu Boko dan Keindahannya (Part 1)
  • Review Wardah Lightening Facial Scrub
  • Menikmati Wisata Petualangan di Bale Kuda Stable
  • Hutan Pinus Tempat Favorit Makvee buat “Ngadem”

Categories

Travel Kuliner hotel Travelling hotel review Hotel Jogja

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Mei 2026 (1)
  • Maret 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • Oktober 2025 (1)
  • Agustus 2025 (8)
  • Juli 2025 (1)
  • Juni 2025 (1)
  • Mei 2025 (5)
  • April 2025 (3)
  • Maret 2025 (13)
  • Mei 2024 (2)
  • April 2024 (1)
  • Maret 2024 (2)
  • Januari 2024 (1)
  • November 2023 (1)
  • Oktober 2023 (1)
  • September 2023 (2)
  • Mei 2023 (2)
  • April 2023 (1)
  • Maret 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Agustus 2022 (2)
  • Juni 2022 (2)
  • April 2022 (31)
  • Maret 2022 (5)
  • Februari 2022 (2)
  • Desember 2021 (1)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (3)
  • April 2021 (2)
  • Maret 2021 (2)
  • Februari 2021 (4)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (8)
  • November 2020 (3)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (3)
  • Agustus 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • Maret 2020 (2)
  • Februari 2020 (7)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (2)
  • November 2019 (3)
  • Oktober 2019 (2)
  • Agustus 2019 (4)
  • Juli 2019 (5)
  • Juni 2019 (10)
  • Mei 2019 (27)
  • April 2019 (5)
  • Maret 2019 (2)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • Desember 2018 (5)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (2)
  • September 2018 (2)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juni 2018 (2)
  • November 2017 (1)
  • Mei 2017 (1)
  • Februari 2017 (2)
  • September 2016 (1)
  • Februari 2016 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (2)
  • Mei 2015 (4)
  • November 2014 (1)
  • Oktober 2014 (1)

Komunitas Blogger Jogja

Komunitas Blogger Jogja

BLogger Perempuan Network

BLogger Perempuan Network

Komunitas Emak Blogger

Komunitas Emak Blogger

Popular

  • Review Jujur Sate Ratu (Sate Kanak dan Sate Merah)
    Yummmmy Senja menyapa perutpun berbunyi, tanda tubuh bahwa saatnya makan. Teringat sate favorit yang berada di area Jogja Paradise. Cu...
  • Review Jujur Le Mindoni Cafe
    Hi Nongkrongers? Apa kabar? Aku harap kalian baik dan sehat ya. Sebagai high quality single, Makvee pasti sangat selow dan woles ka...

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template