Dawet Kani Kuliner Asli Indonesia Hadir di Yogyakarta

Dawet Kani Kuliner Asli Indonesia hadir di Yogyakarta. Lhoh Makvee kok bisa bilang itu kuliner asli Indonesia, yaudahhh sini duduk sini Makvee ceritain soal sejarah. Dawet adalah jenis minuman kalau di Indonesia, rakyat Indonesia termasuk Makvee biasanya menyebutnya dengan Es Dawet bukan Wedang Dawet atau memang sudah ada Wedang Dawet, kala ada coba deh cerita aja di kolom komentar. 

Sebutannya gimana sih Dawet atau Cendol sih Makvee yang bener? 

Hmmm gini-gini ya. Berhubung Makvee lahir di Bandung tapi gedhenya di Jogja. Waktu kecil Makvee lebih sering dengar istilah cendol pas Makvee tinggal di kawasan Garut, Jawa Barat nah pas udah pindah ke Jogja simbah Makvee suka nanya “nok, yuk nderek simbah neng Pasar Gedhe tumbas dawet” Makvee kecil sih iya iya aja saat itu. Tahu bedanya ya, Cendol lebih akrab digunakan di Jawa Barat, Jabodetabek dan sekitarnya tapi kalau Dawet itu familiar di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Cendol

Sebutan Cendol digunakan oleh masyarakat Tatar Sunda. Cendol dibentuk dari cetakan berlubang yang ditekan. Adonan tepung kenyal akan muncul dari lubang atau masyarakat sunda menyebutnya dengan  'jendol'. “eh jendol keluar kumaha atuh” nah dari istilah jendol inilah kemudian istilah, 'cendol' terbentuk. Mungkin masalah lebih enak disebutkan aja kali ya jendol ke cendol. J menjadi C. Aku dan kamu menjadi kita halllaaaahhhhhhhhhhhhhhhh

Dawet

Dawet yang terkenal wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ternyata cerita soal Dawet di Jawa Timur bermula dari peperangan antara tiga wilayah: Kadipaten Paranggaruda, Kadipaten Carangsoka, dan Kadipaten Majasem. Ketiganya berada di wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang kemudian menjadi salah satu daerah yang diakui Kerajaan Majapahit. Tidak heran bukan kalau Dawet berasal dari Pati atau Pati Kanji

Tapi, kali ini Makvee tidak akan membahas mengenai sejarah panjang, karena sejarah dawet bisa ditemukan di berbagi literatur manapun. 

Danial Ahsin saya biasa memanggilkan Kang Danil (biar macam penyanyi korea yheeekan) merupakan owner dan founder dawet Kani untuk regio Yogyakarta. Apa sih istimewanya dawet, paling-paling ya cuma dawet pada umumnya itu. minuman rakyat yang rasanya manis ada santannya udah gitu aja.

No, no, no ini berbeda dari dawet-dawet lainnya. 3 hari setelah buka saya menyambangi Warung Dawet Kani milik Kang Danil ini, cukup ramai untuk ukuran warung dawet yang baru buka 3 hari. Kang Danil bercerita hari pertama adalah hari icip-icip warga dan kantor sekitar warung dawetnya. Kalau ditotal ya lebih kurang 150an cup dawet kani dibagikan di seputaran Jakal atau Jl. Kaliurang Km 10 Ngaglik, Sleman,Yogyakarta. Makvee pun tentu kebagian hari icip-icip nasional tersebut. Kang Danil bilang

“Kaninya ini lebih enak kalau masih pagi karena masih sangat kental, walaupun ini awet sampe sore tapi lebih enak kalau makpyuk masih anget”

Membawa dawet cita rasa asli dari kota Kudus, Jawa Tengah memang tidak salah. Saya pun akhirnya manggut-manggut ngerti bagaimana bedanya. Baik kita bahas 1 persatu ya,

Apa Beda Kani dan Kanil?

Jawabannya hanya pada ada dan tidaknya huruf L. Tapi Kani sendiri lebih tenar di Karesidenan Pati. Dan Dawet adalah semacam minuman ritual, bukan ritual pesugihan tapi semacam “Yen ora dawet ora” intinya dawet telah menjadi minuman sehari-hari bahkan oleh-oleh wajib jika ibu pulang dari pasar.

Kalau di Jogja dan sekitarnya santan kental disebut dengan Kanil. Nah Kanil inilah yang membuat “makpyuk” di atas dawet dan cairan leleh gula aren menjadi semacam topping pyukkk itu tadi dan slurppp gurihnya langsung membuat auto kecanduan. Tapi asli Makvee kecanduan. Kentel, gurih, manis, legitnya, serta lebut dawetnya berpadu menjadi satu. 


Plus esnya dijamin bersih dan aman nih Makvee udah nyoba dan tidak ada rasa tidak enak di tenggorokan

Makvee beruntung datang di hari ke-4 setelah hari ke-3 datang sore hari. Makvee datang pagi pukul 10.00 WIB tepat saat Kang Danil bersiap membuka warung dawetnya. Makvee iseng pegang panci perebus Kaninya dan masih super panas dunk wuahhhhh benar-benar dimasak sampai kental sekental itu. 

Dawet Kani ini memiliki 2 rasa khas yaitu rasa framboz dan rasa manis lelehan kental gula aren. Makvee sudah mencicipi manis legitnya dawet kani yang gula aren namun Kang Danil.

“ayo, Ver coba yang framboz” 
 

Baiklah Makvee pun mencoba yang framboz dan walaaaaa jeng jeng jeng tidak kalah dengan yang gula aren. Tapi berhubung Makvee memang (agak) konvensional, Makvee tetap lebih suka yang gula aren. Kang Danil bilang strategi promosi keluarganya adalah berbagi, maka ya memang hari icip-icip itu nyata adanya. Bentuk promosi lainnya, yang cukup bikin saya ternganga adalah, jika ada yang beli satu gelas diminum di warung atau dibawa pulang dalam bentuk cup. Kang Danil akan otomatis bertanya "di rumah ada siapa saja?" Tujuannya untuk mengetahui berapa jumlah orang di rumah orang yang sedang membeli tersebut untuk kemudian mendapatkan jatah icip-icip. Benar-benar icip icip day bangetlah.

Tapi menurut Makvee cara promosi seperti ini sangatlah mengena, karena dengan mencicipi langsung, brand awareness jadi terbangun dan makin banyak orang yang mengenal dawet kani.

Resep Dawet Kani

Resep Dawet Kani memang sudah sejak turun temurun resep keluarga dari penjual dawet di Pasar Kliwon Kudus. Dawet Pasar Kliwon memang sudah tenar sejak dulu. Dan kini Kang Danil membuka pasarnya dan mencari peruntungan dengan menjualnya di Yogyakarta. Satu-satunya Dawet Kani ingat hanya ada di Yogya berada di Jl. Kaliurang Km 10, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Belum buka cabang.

Setelah mencicipi beberapa kali Dawet Kani, Makvee rasa Dawet Kani ini akan mampu bersaing dengan dawet-dawet sekitar karena ini bukan dawet encer dan bukan dawet kaleng-kaleng. Dawet yang rasanya manis dan gurih sebagai pembeda dari dawet lainnya. Istimewa lagi karena dawet yang dibuat untuk Dawet Kani dari dari tepung aren bukan tepung beras, sebagaimana dawet lainnya. Tentunya santannya santan kani. Terdiri dari dua jenis. Kental dan encer. Ini yang sekali lagi Makvee ingatkan menjadi ciri khas dari Dawet Kani dibandingkan dawet lainnya. Pssst harganya masih Rp6000,- hingga 31 Oktober 2020. Yuk bergegas!

Jadi kamu kapan nyobain Dawet Kani? yuk, Gaskeunnn. Stay Happy, Stay Healthy ya teman-teman, Cheerssss. 





























5 komentar:

  1. Wah, menarik banget ya, kak. Jadi pengin ke sana lagi untuk menikmati Dawet Kani.

    BalasHapus
  2. Hah 6000 doang? Borong sih kalau harganya segitu 🤭

    BalasHapus
  3. Rasanya enak tapi harganya murce, auto langganan nih

    BalasHapus