Langsung ke konten utama

Jelajah Bantul Pantai Goa Cemara


Masih dalam rangkaian Jelajah Bantul, Makvee gass ke pantai berikutnya sebelahan dengan Pantai Baru. Makvee kemudian ke Pantai Goa Cemara berlokasi di barat Pantai Pandansari sejajar dengan Pantai Samas dan Pantai Kwaru. 
 
Lokasi pantai banyak ditumbuhi cemara udang yang tajuknya membentuk atap seperti goa. Iya Goa Cemara nama ini diambil dari Goa yang terbentuk dari rimbunan pohon cemara udang yang tertanam rapi di sepanjang pinggir pantai kawasan Dusun Patehan Gadingsari Bantul Yogyakarta.

 
Ada lebih kurang 6000 pohon cemara udang yang memenuhi lahan seluas 20 hektar di pinggir pantai. Jarak yang saling berdekatan dan dahan saling berhimpitan satu sama lain membuat pemandangan semakin unik dan Makvee jadi enggan untuk meninggalkan tempat ini karena angin dan kesejukannya sungguh terasa.
 
Jangan Lupa pose
 
Kawasan Hutan Cemara Udang ini awalnya dibuat oleh Kelompok Tani Raharjo Dusun Patehan. Fungsinya adalah selain untuk memanfaatkan lahan kosong di kawasan pantai sekaligus sebagai pemecah angin atau win barrie untuk mencegah pengikisan Gosong (gumuk pasir ). Hal menguntungkan lainnya yaitu dapat menjadi kini menjadi obyek wisata yang cukup digemari. Fasilitas yang ada di obyek wisata Pantai Goa Cemara bisa bikin Makvee betah seharian disini karena banyak sudut yang bisa dieksplore. Salah satunya adalah budidaya penyu.

Tentang Penyu
Penyu adalah organisme yang sangat tua, bisa dikatakan mereka masuk dalam kategori hewan purba mereka telah hidup di bumi selama lebih dari 110 juta tahun. Penyu adalah hewan yang kuat dan tetap bertahan terhadap perubahan iklim yang telah membunuh dinosaurus.
 
Tubuh penyu bagian atas dilindungi oleh cangkang. Cangkang tersebut bernama carapace. Penyu tidaklah pemalu yang bersembunyi seperti kura-kura. Penyu tidak bisa menyembunyikan kepala dan kaki ke dalam cangkang. Alasan itu juga yang membuat mereka lebih rentan saat berhadapan dengan predator. Uh kasiannn apalagi bagi Penyu yang masih kecil-kecil. Itu mengapa ketika release penyu hanya 1 dari 1000 penyu yang bias hidup melawan ganasnya ombak di laut. Uwuwuwuwu seperti melawan ombak kehidupan ini.

Penyu menghabiskan sebagian besar hidupnya di lautan. Penyu betina bisa terlihat di pantai hanya selama musim bertelur. Penyu Betina akan menemukan pantai yang tepat meski telah pergi selama 30 tahun. Selama musim bertelur, penyu betina akan kembali ke pantai yang sama di mana dia menetas. Penyu bisa bertelur dengan jumlah 60-200 telur. Penyu berjalan dengan lamban di atas pasir karena sirip mereka digunakan untuk berenang. Penyu adalah perenang handal. 
 

Mereka bisa melalui jarak yang jauh. Banyak penyu mati sia-sia di laut karena ulah manusia yang membuang plastik. Penyu makan ubur-ubur. Ketika melihat plastik di laut penyu akan mengira itu ubur-ubur karena bentuk yang menyerupai. Penyu akan memakan plastik yang mengambang di air dan hal itu bisa membunuh penyu.
 
Duh Geli Si Penyu merangkak di tangan
 

Menurut Makvee menernakan penyu untuk direlease ke laut adalah cara kita menyeimbangkan ekosistem dan menjaga penyu yang mulai sedikit jumlahnya. Selain juga kita menjaga alam dengan bijak mengelola sampah. Langkah yang bijak yang dilakukan oleh Pantai Goa Cemara sebagai bagian dari pelestarian alam.
 

Pantai Goa Cemara juga semakin cantik dengan tambahan property foto seperti gerbang angin dan kursi putih uhukkk cocok buat kamu yang mau melamar si dia di pantai yhekan

Tiket masuk Pantai Goa Cemara
Untuk tiket masuk tempat wisata per orang  Rp5.000
Tiket Parkir Bus Rp15.000,-
Tiket Parkir Mobil Rp5000,-
Tiket Parkir Motor  Rp2000,-
Jam buka wisata Pantai Goa Cemara
Buka setiap hari, mulai pukul 06.00 – 17.00 WIB.

Senang sekali bisa merasakan release penyu di Pantai Goa Cemara. Stay Happy Stay Healthy Everyone and Love Our Nature.

Komentar

  1. kamuuuhhh ga ajak-ajak aku ih, mau ikut tanam tukiknya, dulu pernah ikut kakak kelas ngadain tanam tukik juga di sini, seru, mau ikutannnnn

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Jujur Estuary Cafe Yogyakarta

Hari Sabtu di awal Juli saya dan 2 teman saya menembus kemacetan Jogja. Awalnya kami berniat untuk menikmati senja di Rooftop Satoria Hotel Yogyakarta. Tapi nyatanya senja telah berlari jauh dari kami. Kami-pun batal untuk menikmati senja. Mencari random café-café di Jogja, hingga bertanya ke teman-teman penggemar kopi dan foodgrammer Jogja. Saya pun menemukan instagram Estuary.id yang menampilkan suasana yang cozy dan lucu, dan tentunya instagramable yakaaan ya duonkkkk. Apalagi hari itu saya membawa gear lensa sudra saya Nikon D3500. Tentunya selain makan, sayapun ingin memotret sudut-sudut cantik Estuary Cafe. Ketika datang, mobil grab pesanan kami disambut dengan baik dan diarahkan dengan baik pula oleh petugas parkir Estuary Café. Kami pun masuk dan disambut dengan teriakan anak-anak muda yang nampak fresh dan nampak sigap membantu. Saya pikir Estuary memang menerima anak-anak muda yang masih kuliah dan mau bekerja part time . Begitu masuk kami langsung disambut oleh kasir

Pertanyaan untuk Pecinta Kopi di Tanya Kopi

Hal pertama yang Makvee cari dari kopi dan selalu Makvee tanyakan di kedai kopi manapun adalah Kopinya adanya apa kak, kalau disitu berjenis Arabika semua, udah deh kelar Makvee minum teh manis anget aja dah. Lhoh kenapa emang dengan Arabika emang? Teman-teman pembaca Makvee story mungkin sebagian besar udah tahu perbedaan Kopi Arabika dan Kopi Robusta.  Pecinta kopi umumnya mengetahui perbedaan paling dasar dan otentik antara biji kopi robusta dan arabika. Namun pasti ada penikmat kopi yang belum mengetahui perbedaan antara keduanya dan kalau minum kopi dengan cueknya bilang “ah sik pentiing ngopi (ah yang penting ngopi). Ya beruntunglah dengan orang cuek nan sehat dan cocok di segala macam rasa kopi. Kalau Makvee karena lebih kepada alasan kesehatan. Kopi Arabika memiliki rasa yang lebih kaya, beberapa Arabika bahkan sangat asam dan ada cita rasa buah. Nikmat sihhh nikmat, tapi yang nikmat belum tentu menjadi semangat. "Mengutip Kata Bung Fiersa Besari  “Baik, belum tentu

Review Wardah Lightening Facial Scrub

Hei, Gaes Sambil nepukin pipi Makvee yang makin kenyal  lalu tersenyum manis karena kulit Makvee terasa lebih cerah dan segar. Hmm apasih rahasianya. Baiklah  sesuai judulnya Makvee akan mereview pengalaman menggunakan salah satu produk lokal kesayangan Makvee yaitu Wardah  Lightening Facial Scrub. Si biru yang berfaedah ini yang kini jadi favorit Makvee Oke Makvee bahas satu  persatu ya; 1. Kemasan Wardah Lightening Facial Scrub Kemasannya cantik berwarna biru muda pastel yang nampak segar.  Kemasan yang Makvee punya itu yang 60 ml dan kayaknya Makvee belum menemukan kemasan yang lebih besar dari itu. Ringan dan mantap untuk dibawa saat travelling tidak memenuhi tempat. Kemasan tubnya juga anti tumpah karena ada bunyi  klek atau klik saat ditutup sehingga sangat aman menurut Makvee. Dalam kemasannya juga tercantum info dermatology tested yang artinya secara dermatologis telah terbukti aman dan tentunya sudah ada ijin dari BPOM. Lebih mantap lagi di k